Archive for September, 2010

jual kandang kelinci muraaaaaaaaaaaaah :)

 hi hi….

dari abang rabbit mau jual kandang kelincinya ni

kandang baterei bekas pakai kurang lebih 1 tahun

bagusss bgt kandangnya, bawahnya uda ada fiber + talang untuk kotoroannya

ada 3 kotak/ruang/kamar, masing2 60x50x50

alas bambu, sekat antar kamar bambu, kaki kaki dari kayu reng yang kuat,

mau dijual mmurah meriah , 250 rb saja

mohon maaf ndak bisa dikirim,

klo mau datang sendiri ke lokasi,

di cipondoh, Tangerang

minat bisa sms/call ke 0811 100 2776

Salam

Iklan

Comments (13) »

jual kelinci rex

hi there………..

abang rabbit mau jualan ni :

ada tiga ekor anakan rex usia 2 bulanan,

sehat, lucu, aluuzzz bgt bulunya

djual murah, 125 rb/ ekor,

klo ambil tiga ekor dapat diskon lohhh 🙂

o iya,

ada tiga warna :

tricolor ada dua ekor, satu jantan dan satu betina

hitam ada satu ekor, jantan, aluuuuuuuzzzz bgt

oke dey

buat yg minat bisa kontek ke aku

di 0811 100 2776

Thanks yaaa

Salam….

Comments (1) »

Scabies pada Hewan Peliharaan

Kesehatan

Beranda : Artikel : Kesehatan
08 Juni 2009 – 15:45
Scabies pada Hewan Peliharaan

Sesmita Oktora, drh
Sarcoptes scabiei merupakan salah satu jenis tungau yang dapat menyebabkan kudis pada anjing dan kucing. Tungau lainnya yaitu demodex yang menyebabkan demodekosis memiliki ciri yang mirip dengan scabies. Penyakit ini termasuk penyakit yang sering muncul pada dunia kedokteran hewan.

Karena ukurannya yang kecil yaitu 0.2-0.4 mm maka untuk mendiagnosa tungau tersebut tidak bisa dilakukan dengan mata telanjang dan harus memakai bantuan mikroskop dengan melihat kerokan kulit yang diambil didaerah kulit yang mengalami perubahan.

Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 – 4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 – 14 hari.

Gejala

Tungau sarcoptic hidup di akar rambut. Anjing atau kucing yang mengalami infestasi tungau sarcoptic akan merasakan gatal yang hebat. Dengan sendirinya hewan akan menggaruk dan terus menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal. Garukan yang intens ini akan menimbulkan kemerahan pada kulit dan dapat terjadi perlukaan atau lesio. Gejala lain yaitu terjadi kerusakan rambut/bulu, kerontokan hingga kebotakan. Ciri lain yang menunjukkan penyakit ini adalah timbulnya kerak atau keropeng pada kulit. Nafsu makan hewan turun, dan pada akhirnya akan diikuti penurunan berat badan sehingga hewan akan tampak kurus. Kurang perhatian pemilik terhadap hewan dapat memicu terjadinya penyakit, misalnya hewan mengalami malnutrisi sehingga rentan terhadap penyakit atau pemilik kurang menjaga kebersihan hewan tersebut

Scabies merupakan salah satu penyakit zoonosis. Tungau sarcoptic dapat menular dari hewan ke manusia. Pada manusia daerah yang diserang biasanya adalah daerah yang berkulit tipis seperti daerah lipatan paha, sela jari kaki dan tangan, lipatan perut, ketiak dan daerah vital.

Terapi

Ada beberapa obat yang efektif untuk membunuh tungau ini :

– Ivermectin dengan dosis yang tepat, baik injeksi (suntikan) maupun per oral (minum) dapat membunuh tungau sarcoptic pada anjing. Pengobatan dengan injeksi ataupun per oral harus continuous (terus-menerus) agar pengobatan benar-benar tuntas. Sebaiknya tidak diberikan pada anjing dengan umur yang terlalu muda, kurang dari 4 bulan

– Selamectin dapat diaplikasikan dalam bentuk obat tetes sebulan sekali untuk hewan

– Amitraz diaplikasikan langsung di kulit setiap minggu dengan cara dimandikan atau disikat.

– Sulfur dalam bentuk racikan salep kulit

Selain diberikan obat yang membunuh tungau tersebut juga diberikan pengobatan yang sesuai dengan kondisi hewan bersangkutan seperti :

– Antibiotik : utnuk mencegah infeksi pada luka akibat garukan

– Kortikosteroid jangka pendek : untuk mengurangi rasa gatal

– Vitamin untuk meningkatkan kondisi secara umum dan daya tahan

dikutip dari http://www.pietklinik.com/wmview.php?ArtID=23

Leave a comment »

Studi kasus: Mengenal Penyakit Scabies

Bagi insan dunia veteriner, mungkin kita sering menemukan berbagai kasus pada bagian skin (kulit) pada kucing atau anjing di klinik. salah satu penyakit kulit yang sering kita temukan adalah scabies. Berdasarkan berbagai sumber literatur, Scabies merupakan penyakit kulit yang sering ditemukan di Indonesia. Hal ini dikarenakan iklim tropis Indonesia sangat mendukung perkembangan agen penyebab scabies. Selain itu, kepekaan individu juga berpengaruh terhadap infestasi oleh agen. Kurang perhatian pemilik terhadap hewan dapat memicu terjadinya penyakit, misalnya hewan mengalami malnutrisi sehingga rentan terhadap penyakit atau pemilik kurang menjaga kebersihan hewan tersebut.

Etiologi
Etiologi Penyebab dari scabies adalah tungau (mange) dari ordo Acarina, yaitu Sarcoptes scabiei var. canis pada anjing, dan Sarcoptes scabiei var. felis pada kucing. Sedangkan, penyebab scabies pada manusia adalah Sarcoptes scabiei var. hominis. Antara Sarcoptes scabiei satu dengan yang lain memiliki struktur yang identik tetapi secara fisiologis berbeda. Oleh karena itu, Sarcoptes scabiei dapat berpidah dan hidup pada induk semang yang lain meskipun dengan susah payah. Sehingga scabies tergolong penyakit zoonosis, karena dapat menular dari manusia ke hewan atau sebaliknya.

Gejala klinis
Sarcoptes scabiei menyukai bagian tubuh yang jarang rambutnya, misalnya daerah perut. Hewan terlihat tidak tenang akibat rasa gatal dengan menggaruk atau menggosokkan pada benda keras. Rasa gatal tersebut timbul dari adanya allergen yang merupakan hasil metabolisme Sarcoptes scabiei. Selain itu, adanya aktifitas Sarcoptes scabiei misalnya berpindah tempat, juga dapat menyebabkan gatal. Rambut rontok dan patah-patah akibat sering menggaruk pada bagian yang gatal. Adanya lesi dengan tepi yang tidak merata disertai keropeng, kulit bersisik dan diikuti terjadinya reruntuhan jaringan kulit. Nafsu makan hewan turun, dan pada akhirnya akan diikuti penurunan berat badan sehingga hewan akan tampak kurus.

Diagnosa
Banyak penyakit kulit yang memiliki gejala yang mirip dengan scabies, diantaranya demodikosis, dermatitis allergica, eczema, ataupun infeksi jamur dan infeksi bakteri. Adanya rasa gatal disertai timbulnya lesi dan keropeng yang sulit untuk membedakan penyakit kulit satu dengan yang lainnya. Untuk menegakkan diagnosa, sebaiknya dilakukan kerokan kulit dan kemudian diperiksa dengan mikroskop.

Terapi
Ada dua cara pengobatan yang dapat digunakan, antara lain:
1. Injeksi. Obat ektoparasit yang biasa digunakan adalah avermectin, misalnya ivermectin secara subkutan (SC). Dosis yang dianjurkan adalah 1 ml untuk 15 – 20 kg berat badan dan diulang 10 -14 hari kemudian. Avermetin sebaiknya tidak diberikan pada anjing dengan umur yang terlalu muda, kurang dari 6 bulan dan ada beberapa anjing yang peka terhadap obat tersebut.
2. Dipping, yaitu memandikan hewan dengan tujuan pengobatan. Obat yang sering digunakan adalah Amitraz. 1 ml amitraz 5 % dilarutkan dalam 100 ml air untuk memandiakan hewan terinfestasi ektoparasit, dan diulang tiap minggu selama beberapa minggu hingga hewan sembuh.

sumber dari http://www.vet-indo.com

Leave a comment »