Archive for Kesehatan

BEBERAPA PENYAKIT PENTING PADA KELINCI DI INDONESIA

TOLIBIN  I SKANDAR

Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

Ternak kelinci merupakan salah satu aset petani yang sangat berharga. Di samping sebagai tabungan,

kelinci juga sebagai penghasil daging yang tinggi kandungan protein dan rendah kolesterol dan trigeliserida

dan dapat dibuat dalam bentuk produk olahan, seperti abon, dendeng, sosis, burger, dan bentuk cepat saji

seperti sate. Selain itu sebagai penghasil kulit bulu (fur), juga menghasilkan wool, sebagai hewan coba dalam

dunia kedokteran dan farmasi, menjadi idola atau kelinci kesayangan dengan harga jual relatif tinggi, kotoran

dan urine sebagai pupuk organik yang bermutu tinggi untuk tanaman sayuran dan bunga. Berbagai jenis

ternak kelinci yang sudah dikembangkan di Indonesia seperti Lops, Fuzzy, Tan, Jersey Wooly, New Zealand

White, Netherland Dwarf, Yamamoto, Silver Fox, Dwarf Hotot, Rex, Satin, Angora, Tris Mini Rex. Kelinci

mampu melahirkan 10–11 kali per tahun dengan rataan 6–7 anak per kelahiran oleh sebab itu kelinci mudah

berkembang biak dan tumbuh dengan cepat. Salah satu kendala yaitu penyakit. Penyakit yang menyerang

kelinci di Indonesia yaitu Kudis, Koksidiosis, Pasteurellosis, Mukoid Enteritis, Penyakit Tyzzer, Sifilis, Ring

worm, Kecacingan, Mastitis, Radang mata. Keberadaan penyakit eksotik perlu diwaspadai mengingat lebih

banyak beternak kelinci impor daripada kelinci lokal. Kudis disebabkan Sarcoptes scabiei perlu perhatian

khusus karena menular ke manusia, seperti Pasteurellosis. Penyakit Koksidiosis, Mukoid Enteritis dan

Penyakit Tyzzer sangat mudah menyebar ke koloni kelinci. Beberapa penyakit kelinci dipaparkan mengenai

diagnosis, gejala klinis, isolasi ternak sakit dan pengobatannya

 

PENDAHULUAN

Kelinci adalah hewan percobaan yang

penting, dan juga penting untuk produksi

daging. Oleh karena itu, informasi di bawah ini

berguna juga untuk peternak kelinci dan untuk

mereka yang menggunakan kelinci di

laboratorium. Disamping itu kelinci merupakan

satwa harapan, binatang kesayangan karena

menarik dan lucu, kulit bulunya dan

kotorannya bisa dijadikan pupuk organik yang

sangat baik. Berbagai faktor teknis yang

menghambat dalam pengembangan kelinci

antara lain (1) kurangnya ketersediaan bibit

bermutu, (2) tingginya mortalitas, (3) harga

pakan yang mahal untuk skala komersial, (4)

terbatasnya teknologi produksi yang tersedia

dan (5) kurang sosialisasi dan promosi peranan

kelinci di masyarakat (INOUNU dan RAHARJO,

2005).

Kendala mortalitas yang tinggi salah satu

diantaranya yaitu penyakit, menurut HAGEN

(1976) penyakit disebabkan bakteri seperti:

Pateurellosis, Listeriosis, Necrobacillocillosis,

Salmonellosis, Staphylococcosis

Sphirochetosis, Tularemia, dan Tyzzer′s

Disease. Penyakit disebabkan virus seperti:

Myxomatosis, Rabbit Pox, Fibroma, Herpes

Virus Rabbit, Rabbit Papilloma. Penyakit

disebabkan cendawan seperti: Ring worm, dan

Pavus. Penyakit disebabkan parasit yang

termasuk Ekto parasit (Ekternal parasites) yaitu

kudis pada daun telinga dan kulit karena

Psoroptes cuniculi, Fleas dan Ticks seperti:

lalat Spilopsyllus cuniculi, Ctenocephalides

canis, dan C. felis, juga caplak Haemaphysalis

leporispalustris. Penyakit karena Endo parasit

(Internal parasites) seperti: Koksidiosis,

Nosematosis, Roundworms, Tapeworms.

Sedangkan penyakit yang menyerang

kelinci di daerah tropis menurut SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO (1988) yaitu:

Salmonellosis, Pasteurellosis (Haemorrhagic

Septicaemia), Koksidiosis, Skabies, Mucoid

Enteritis (ME), Penyakit Tyzzer dan Sifilis.

Saat ini rata-rata konsumsi daging secara

nasional masih rendah yaitu kurang dari 2

kg/kapita/tahun dan diperkirakan akan

mencapai 3 kg/kapita/tahun sehingga

peningkatan konsumsi dan peningkatan

penduduk akan memerlukan pasokan sapi

potong sekitar 1,5 juta ekor per tahun (MAKKA,

2005).

Produk utama yang yang dihasilkan kelinci

adalah daging sehat, yang tinggi kandungan

protein, dan rendah kolesterol dan trigleserida

dan dapat dibuat dalam berbagai bentuk produk

olahan, seperti sosis, abon, dendeng, nugget,

burger dan lainnya. Selain itu, jenis kelinci Rex

dan Satin menghasilkan kulit bulu (fur) untuk

produk kulit bulu ekslusif, dan kelinci Angora

menghasilkan wool yang memiliki nilai

ekonomi tinggi (RAHARJO, 2005).

WIDODO (2005) melaporkan pada saat ini

kelinci masih diusahakan secara sambilan

dengan kapasitas masing-masing peternak

sekitar 25 s/d 50 ekor per kandang, tetapi ada

beberapa peternak yang memiliki lebih dari

100 ekor, diternakan di Desa Candi, Pakunden,

Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang

Propinsi Jawa Tengah. Nama kelompoknya

yaitu Kelompok Peternak Kelinci Mandiri

(KPKM) yang berdiri sejak 8 Oktober 2002

dengan jumlah anggota 55 orang mempunyai

populasi kelinci dewasa lebih dari 840 ekor

dengan jenis yang bermacam-macam seperti:

Satin, Rex, Lyon, Vlamsereus, New Zealand

White, Giant Chinchilla, American Giant, Lop

Dwarf, Polish, Dutch, Chekered Giant. Juga

diternakkan kelinci lokal dan semi lokal.

Pola pengembangan usaha ternak kelinci

dilaksanakan dengan wawasan agribisnis yang

diselaraskan dengan potensi riil dari

permintaan pasar yang ada. Sejak tahun 1981

Ditjen Peternakan melaksanakan penyebaran

dan pengembangan ternak kelinci di 10

propinsi yaitu Sumut, Lampung, Sumsel, Jabar,

Jateng, DIY, Jatim, Sulsel, NTB, dan NTT

sebanyak 5 juta ekor dengan pola bergulir dari

Village Breading Centre untuk kemudian

disebarkan kepada peternak. Kemudian pada

tahun 1998/1999 menyebarkan ternak kelinci

Rex untuk tujuan produksi kulit bulu (fur) di

Kabupaten Tabanan, Bali dan Banjarnegara

serta Brebes, Jawa Tengah. Pola yang

dikembangkan juga dengan sistem bergulir

dengan membentuk Rabbit Multiplication

Centre (RMC) sebagai tempat perbanyakan

untuk kemudian disebarkan kepada masyarakat

(MAKKA, 2005).

Dengan berkembangnya peternakan kelinci

maka perlu dipertimbangkan adanya penyakit

sebagai salah satu kendala dari angka

mortalitas yang tinggi (ISKANDAR et al., 1989).

BEBERAPA PENYAKIT PENTING PADA

KELINCI

Kudis (mange)

Kudis pada kelinci umumnya disebabkan

oleh tungau Psoroptes cuniculi, Chorioptes

cuniculi, Notoedres cati, dan Sarcoptes scabiei,

juga kutu Haemodipsus ventricosus.

Berdasarkan lokasi, penyebab, dan tanda-tanda

klinis dibedakan:

Kudis pada liang telinga

Penyebabnya adalah tungau Psoroptes

cuniculi dan atau Chorioptes cuniculi (SMITH

dan MANGKOEWIDJOJO, 1988; MANURUNG

et al., 1986; ISKANDAR et al., 1989). Tungau

ini memulai serangannya di dasar rambut liang

telinga, parasit mengisap cairan kulit,

membentuk lepuh-lepuh berisi cairan yang

apabila pecah menimbulkan kegatalan. Dengan

tanda-tanda klinis kelinci selalu menggoyanggoyangkan

kepala, menggaruk-garuk daun

telinga mengakibatkan lepuh akan pecah,

sering disertai infeksi sekunder lama kelamaan

timbul keropeng-keropeng hal ini dapat

menyumbat liang telinga bila dibiarkan akan

menimbulkan meningitis ditandai dengan

kepala berputar (torticolis), gerak-gerakannya

tidak terkontrol (ataxia) dan akhirnya mati.

Penyakit ini dilaporkan MANURUNG et al.

(1986) tetapi mendapat infeksi campuran

dengan Notoedres cati di Bogor.

Kudis kulit

Tungau ini mulai menyerang sekitar mata,

pipi, hidung, kepala, jari kaki kemudian meluas

ke seluruh permukaan tubuh. Penyebabnya

Sarcoptes scabiei dan Notoedres cati juga kutu

Haemodipsus ventricosus (SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO, 1988; MANURUNG et al.,

1986; ISKANDAR et al., 1989). Pada infestasi S.

scabiei dan N. cati memperlihatkan gejala:

kelinci menggaruk-garuk terus sehingga bulu

muka, kepala, pangkal telinga, sekeliling mata

dan kaki rontok. Pada infestasi berat, kulit di

sekeliling telinga dan hidung dapat berubah

bentuk. Tungau ini cepat menyebar ke seluruh

koloni kelinci. S. scabiei dapat menginfestasi

ke manusia karena bersifat zoonosis, jika

menyerang sudut mulut kelinci maka kelinci

sulit makan sehingga menimbulkan kematian.

Penyakit ini menyerang kelinci di Lombok

(ANONIMOUS, 1993). Sedangkan ISKANDAR et

al. (1989) melaporkan skabies di Sumedang

(Jawa Barat).

Diagnosis dan pemeriksaan laboratorik

Dasar diagnosis kudis adalah gejala klinis

seperti gatal-gatal seperti yang diuraikan di

atas. Cara diagnosa kudis pada gambaran

gejala klinik dalam prakteknya sulit ditetapkan

karena berbagai penyakit kulit lainnya

memberikan gambaran klinis yang mirip

dengan kudis (SUNGKAR, 1991).

Diagnosis infestasi kutu dibuat dengan

identifikasi kutu pada kelinci. Tungau dapat

diidentifikasi dengan pemeriksaan mikroskopis

dengan kerokan kulit kemudian diletakkan di

gelas obyek dan dijernihkan dengan larutan

KOH 5−10%, kemudian ditutup dengan kaca

tutup, selanjutnya diperiksa di bawah

mikroskop (ISKANDAR, 1982; ISKANDAR et al.,

1984; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Membuat tes tinta terowongan dengan cara

menggosok papula yang terdapat pada kulit

menggunakan ujung pena yang mengandung

tinta. Etelah papula tertutup oleh tinta dan

didiamkan selama 20−30 menit, tinta kemudian

diusap/diharus dengan kapas yang dibasahi

alkohol. Tes ini dinyatakan positif bila tinta

masuk ke dalam terowongan dan membentuk

gambaran khas berupa garis-garis zig-zag

(HOEDOJO, 1989; ISKANDAR, 2000).

Pengobatan dan pengendalian kudis

Peninggalan sejarah menunjukkan bahwa

kudis dan cara pengobatannya telah dikenal

sejak kira-kira tiga ribu tahun yang lalu

(RONCALL, 1987). Penyakit kudis pada kelinci

dapat disembuhkan dengan Neguvon 0,15%

dan Asuntol 0,05–0,2% (MANURUNG et al.,

1986). Salep Asuntol 0,1% dapat

menyembuhkan scabies pada kelinci

(ISKANDAR et al., 1989). Kelinci yang kena

infestasi tungau harus diasingkan dan diobati

campuran belerang dengan kapur 5 berbanding

3 atau Pirantel pamoat (Canex) dicampur

vaselin (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Bisa diobati Ivermectin dengan dosis 0,2

mg/kg berat badan diberikan sub kutan dengan

selang waktu 7 hari. Kudis pada liang telinga

dibersihkan dengan H2O2 3%, keropengkeropeng

dibuang, tetesi dengan tetes telinga

yang dicampur antibiotik dan fungisida

(ISKANDAR et al., 1989).

Dalam melakukan pencegahan dan

pengendalian penyakit kudis perlu diperhatikan

pola hidup, sanitasi, pemindahan kelinci,

karantina, dan pengobatan. Pola dan kebiasaan

hidup yang kurang bersih dan kurang benar

memungkinkan berlangsungnya siklus hidup

tungau (S. scabiei) dengan baik. Sanitasi

termasuk kualitas penyediaan air yang kurang

dan ternak yang terlalu padat perlu dihindari

(SARDJONO et al., 1997). Pemindahan hewan

dari satu tempat ke tempat lain perlu

penanganan yang serius. Perlu diperhatikan

Surat Keputusan Menteri Pertanian no.

422/kpts/LB-720/6/1988 yaitu peraturan

karantina tentang penyakit kudis yang

menyatakan bahwa penyakit kudis, skabies,

mange dan demodekosis termasuk penyakit

golongan 2 nomor 51. Hewan yang peka

adalah ruminansia, kuda, babi, dan kelinci

dengan masa inkubasi 14 hari, lama hewan di

karantina 14–30 hari. Setiap hewan tersangka

skabies harus diisolasi dan diobati.

Jika ada hewan terkena skabies, sebelum

memulai terapi sebaiknya peternak diberi

penjelasan yang lengkap mengenai penyakit

dan cara pengobatannya, sehingga dapat

meningkatkan keberhasilan terapi. Mengingat

masa inkubasi yang lama, maka semua ternak

kelinci yang berkontak dengan hewan

penderita perlu diobati meskipun tidak ada

gejala klinis atau hewan penderita diisolasi.

Hewan penderita yang berada di tengah

keluarga sulit untuk diisolasi. Pakaian yang

dicurigai harus dicuci dengan air panas atau

disetrika, alat rumah tangga dan kandang juga

harus dibersihkan, meskipun tungau tidak lama

bertahan hidup di luar kulit hewan maupun

manusia (HAGEN, 1982; HARTADI, 1988;

SUNGKAR, 1991; SOEDARTO, 1994; ISKANDAR,

2000).

Penyakit ini sering dikacaukan dengan

Ringworms dan Pavus.

 

Koksidiosis

Pada kelinci terdapat dua bentuk

koksidiosis yaitu bentuk hati disebabkan oleh

Eimeria stidae dan bentuk usus disebabkan

oleh E. magna, E. media, E. irresidua atau E.

perforans. Eimeria spp lain jarang ditemukan

di usus kelinci (HAGEN, 1976; SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO, 1988; ISKANDAR, 2001).

Hewan yang sudah sembuh dari penyakit ini

sering menjadi karier.

Berbagai bentuk koksidiosis tersebut tidak

selalu menimbulkan gejala mencret. Penyakit

bisa tanpa memperlihatkan gejala, atau

kematian dapat terjadi hanya sesudah beberapa

hari setelah infestasi. Kelinci muda lebih sering

terjadi terkena oleh koksidiosis bentuk hati

dengan gejala-gejala berupa mencret, nafsu

makan hilang, dan bulu kasar. Kelinci tidak

tumbuh normal, badan kurus dan tidak tampak

sehat. Pada bentuk usus, gejala biasanya

tumbuh lambat, nafsu makan hilang dan perut

kelihatan buncit. Siklus hidup Eimeria bisa

dilihat pada Gambar 1.

Diagnosis dapat dibuat dengan identifikasi

ookista pada pemeriksaan tinja atau dengan

pemeriksaan histopatologi usus dan hati. Pada

 

pemeriksaan pascamati. Lesi koksidiosis

disebabkan oleh E. stiedae menunjukkan

bintik-bintik putih atau kista di hati seperti

pada Gambar 2.

Pada kasus akut, lesi ini mempunyai tepi

jelas tetapi kemudian lesi akan bergabung satu

sama lain pada kasus kronis. Pada pemeriksaan

histopatologik bintik-bintik tersebut tampak

hiperplasia saluran empedu dan banyak

ditemukan ookista. Lesi pada bentuk usus

bervariasi, kasus akut jarang memperlihatkan

lesi, sedang kasus kronis tampak usus menebal

dan pucat.

Koksidiosis dapat dikendalikan dengan

pengelolaan koloni hewan yang baik dan

mengobati kelinci dengan 0,05%

Sulfakuinoksalin dalam air minum selama 30

hari. Bisa juga Amprolium 30–250 mg/kg

pakan. Nitrofurason dapat dipakai dengan dosis

0,5–2,0 g/kg berat badan untuk pengobatan,

atau 0,5–1,0 g/kg untuk pencegahan

koksidiosis usus (HARKNESS dan WAGNER,

1983).

Eimeria sp ini tidak dapat menginfeksi

manusia. Penyakit ini dapat dikacaukan dengan

Enteritis, Diare, Bloat atau Kembung perut

(Timpani).

 

 

 

 

Pasteurellosis (Haemorrhagic septicaemia)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri

Pasteurella multocida. Nama lain adalah

Bacterium leptiseptica, Bacillus leptiseptica,

Pasteurella leptiseptica dan Pasteurella septica

(HAGEN, 1976; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO,

1988). Penyakit ini sering ditemukan dalam

koloni kelinci laboratorium dan sangat menular.

Pasteurellosis dapat menyebar secara langsung

jika kelinci sehat kontak dengan yang sakit

atau tidak langsung yaitu kelinci sehat

dipindahkan ke kandang penderita tanpa di

sterilisasi. Pada kelinci sering menimbulkan

kekebalan ringan sesudah kelinci terinfeksi.

Beberapa hewan dapat menjadi karier meskipun

tampak sehat, dan mungkin hewan ini menjadi

sumber infeksi dalam koloni kelinci.

Penyakit ini biasanya bersifat kronik

dengan gejala ke luar eksudat encer atau nanah

dari hidung dan mata. Bulu kaki depan

terutama di sekeliling kuku tampak kusut dan

banyak eksudat kering. Kadang-kadang disertai

pneumonia, pyometra, orchitis, otitis media,

conjunctivitis, subcutaneus abces dan

septicemia (HAGAN, 1976; HARKNESS dan

WAGNER, 1983). Kelinci yang sakit biasanya

bersin dan batuk bisa diakhiri dengan

kematian. Dalam bentuk akut, kelinci sakit

tiba-tiba mati. Jika kelinci sembuh bisa sebagai

karier.

Diagnosis penyakit

Penyakit ini dapat diagnosis dengan isolasi

dan identifikasi bakteri dari paru-paru kelinci

sakit (HAGAN, 1976; HARKNESS dan WAGNER,

1983).

Jika diadakan pemeriksaan pascamati,

ditemukan radang akut sampai kronik di

selaput lendir saluran pernapasan dan paruparu.

Biasanya lesi disertai rinitis, sinusitis,

otitis, meningitis dan bronkhopneumonia.

Abses dapat ditemukan di tubuh kelinci

terutama di kepala. Dalam keadaan akut terjadi

septisemia biasanya kelinci mati dalam waktu

48 jam. Pemeriksaan pascamati pada bentuk

akut tampak kongesti pembuluh darah sistim

pernapasan, trakeaitis, kelenjar pertahanan

membesar dan perdarahan di bawah kulit.

Hewan yang terinfeksi P. multocida sebaiknya

dibinasakan biasanya diobati tidak akan

berhasil. Seluruh kandang dan kamar kelinci

juga peralatannya harus disterilkan.

Penyakit ini bisa menular ke manusia,

tetapi sangat menular ke kelinci lain dan hewan

percobaan

Mucoid enteritis (ME)

Penyakit ini menimbulkan radang usus

dengan mortalitas yang tinggi terutama

menyerang kelinci umur 7–10 minggu.

Penyebabnya belum bisa dipastikan (HAGEN,

1976; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Beberapa bakteri bisa diisolasi dari kelinci

penderita yaitu Coliform bacilli dan anaerobic

bacteria, juga virus dan koksidia.

Gejala-gejala ME adalah napsu makan

hilang, polidipsia (banyak minum) dan suhu

badan di bawah normal (37–38°C). Kelinci

kelihatan depresi dengan sikap merangkakrangkak

dan bulu kasar, mencret, kurus,

lambung menggembung, usus kecil dan usus

besar menggembung isinya gas dan cairan

usus. Kulit disekitar anus kotor dengan lendir

atau tunja kuning dan cair.

Pada pemeriksaan pascamati, tidak

ditemukan lesi yang jelas. Lambung dan usus

biasanya banyak ditemukan gas dan cairan,

juga bisa isi sekum gas dan kering, kolon berisi

lendir yang kental dan jernih, katong empedu

membesar. Pemeriksaan histopatologis pada

usus kecil banyak ditemukan hiperplasia sel

goblet.

Diagnosis penyakit ME

Dengan melihat gejala klinis yaitu

dehidrasi, mencret berlendir, perut kembung

dan pemeriksaan pascamati. Penyaki ini pernah

menyerang kelinci pada kandang hewan coba

di Balai Penelitian Veteriner Bogor (ISKANDAR

et al., 1989).

Tidak ada pengobatan spesifik untuk

penyakit ME Dapat dicoba dengan antibiotik

agar tidak terjadi infeksi bakteri, juga diberi

rumput kering dalam ransum yang bergizi.

Penyakit ini tidak menular ke manusia.

Penyakit Tyzzer

Penyakit ini disebabkan oleh Bacillus

piliformis. Penyakit jarang terjadi pada koloni

kelinci, kadang-kadang dikacaukan dengan

penyakit ME. Sebagai paktor disposisi timbul

penyakit ini yaitu stres.

Gejala penyakit yaitu diare, dehidrasi dan

kematian yang cepat, biasanya dalam 24–48

jam. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi,

lebih dari 50% koloni kelinci menderita sakit

dan lebih dari 90% kelinci yang sakit dapat

mati. Kelinci yang bertahan hidup tumbuhnya

lambat dan nafsu makan menurun.

Pada pemeriksaan pascamati mukosa usus

kecil dan usus besar berkaca-kaca tandanya ada

peradangan dan ditemukan perdarahan

berbintik. Pada hati sering ditemukan masa

foki pucat sebesar kepala jarum pentul. Pada

pemeriksaan histopatologis tampak nekrosis

berat di mukosa epitel usus besar khususnya di

sekum. Dengan pewarnaan khusus, yaitu

Giemsa atau Periodic acid Schiff, dapat dilihat

kumpulan organisme berbentuk filamen,

terutama dalam sel epitel usus yang tidak

berlesi. Pada hati ditemukan banyak fokal

nekrotik, dan di tepi lesi dapat ditemukan

kumpulan organisme dalam sel.

Diagnosis penyakit

Penyebab penyakit dapat ditemukan pada

organ usus atau hati dengan cara mengisolasi

bakteri dengan cara in ovo yaitu menyuntikan

ke dalam kuning telur ayam tertunas.

Pengobatan

Penyakit Tyzerr sulit untuk diobati. Kalau

penyakit ini menyerang koloni kelinci, seluruh

koloni kelinci harus dibinasakan dan memulai

koloni baru dengan kelinci yang bebas dari

penyakit ini. Koloni baru ini harus ditempatkan

dalam gedung terisolasi dari koloni mencit,

hewan mencit lebih mudah tertular penyakit

Tyzerr. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis

(SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Sifilis

Penyakit ini disebabkan oleh Treponema

cuniculi dan sering ditemukan dalam koloni

kelinci yang higienenya sangat jelek. Kedua

jenis kelamin kelinci ini dapat terinfeksi pada

saat kopulasi.

Gejala klinis bulu disekitar kemaluan luar

rontok dan berbintik-bintik seperti kudisan.

Kelinci sakit tidak boleh dikawinkan.

Pengobatan mengunakan antibiotik seperti

penisilin 50.000 unit tiap hari sampai sembuh

(10–14 hari). Kelinci yang sembuh tidak

bersifat karier dan bisa dikawinkan lagi.

Penyakit ini tidak menular ke manusia

(WIDODO, 2005).

 

Mastitis (radang ambing)

Penyakit ini disebabkan Staphylococus sp,

biasanya menyerang kelinci yang menyusui

terutama kelinci ras pernah terjadi kasus di

Kabupaten Magelang (WIDODO, 2005).

Gejala klinis bagian putting susu

membengkak dan mengeras berwarna merah

muda. Bila diraba terasa panas dan keras, jika

tidak diobati warna kulit sekitar putting susu

berwarna gelap kemudian pecah.

Pencegahan: lingkungan kandang harus

tenang jauh dari kebisingan agar induk tidak

gelisah. Penyapihan jangan dilakukan

mendadak dan cukup waktunya, periode sapih

antara 40–45 hari. Induk yang sedang

menyusui jangan dipindah tempat dari kandang

saat melahirkan agar tidak stres. Penyakit ini

tidak menular ke manusia.

Conjunctivitis (radang mata)

Penyakit mata ini penyebabnya Moraxella

sp. Tanda-tanda penyakit yaitu mata merah dan

mengeluarkan cairan (eksudat) pernah di

laporkan (ISKANDAR et al., 1989).

Pengobatannya dengan pemberian Sulfathiazole

5% Opthalmia Ointment, Salep mata yang

mengandung antibiotik. Penyakit lain yang

dilaporkan WIDODO (2005) di Magelang yaitu

Kecacingan karena cacing pita (Taenia

pisiformis). Pengobatan bisa menggunakan

Thiabendazole.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan

sebagai berikut:

Penyakit koksidiosis merupakan penyakit

yang umum di peternakan kelinci yang banyak

menimbulkan kematian dapat bersifat akut dan

fatal. Perlu pencegahan dan pengobatan dengan

menggunakan koksidiostat baik melalui air

minum, pakan yang paling efektif koksidiostat

dalam keemasan kapsul. Seperti

Sulfakuinoksalin, Nitrofurason, Robenidin,

Clopidol. Kelinci yang sembuh dari penyakit

ini sering menjadi karier.

Penyakit kudis sering menyerang kelinci

yang diternakkan kurang higienis kelinci yang

terserang harus diisolasi dan diobati dengan

salep Asuntol 2%, Ivermektin.

Tindakan vaksinasi dapat dilakukan untuk

pencegahan penyakit Tyzzer dan atau

Pasteurellosis, apabila ada kelinci yang

menderita Pasteurellosis dan atau Tyzzer lebih

baik dibinasakan untuk penyakit Radang mata

dan Kecacingan bisa diobati dengan

menggunakan salep mata yang mengandung

antibiotik dan obat cacing.

Pengendalian penyakit pada kelinci tidak

berbeda dengan cara-cara pengendalian pada

penyakit hewan menular lainnya. Kewaspadaan

dini terhadap penyakit sangatlah penting untuk

mengantisipasi kejadian wabah penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

ANONIMOUS. 1993. Skabies menyerang Lombok.

Kompas 14 Agustus.

HAGEN. 1976. Domestic Rabbits: Disease and

Parasites. Veterinarian, Western Region.

Agricultural Research Service. Departement

of Veterinary Pathology. Iowa State

University. Ames. Iowa.

HARKNESS, J.E. and J.E. WAGNER. 1983. The

Biology and medicine of Rabbits and Rodents.

2nd. Ed, Lea and Febiger, Philadelphia. pp..

1−112.

INOUNU, I. dan Y.C. RAHARJO. 2005. Ketersediaan

Teknologi dalam mendukung pengembangan

Agribisnis Kelinci. Makalah belum di

Publikasi.

ISKANDAR, T. 1982. Invasi ulang skabies (Sarcoptes

scabiei) pada kerbau lumpur (Bos bubalus)

dengan pengobatan aslep asuntol 50 WP

konsentrasi 2% dan perubahan patologik kulit.

Penyakit Hewan. 23: 21−23.

ISKANDAR, T. 2001. Studi Patogenesitas dan Waktu

sporulasi Eimeria stiedae galur lapang pada

kelinci. Widyariset, LIPI 3: 137−184.

ISKANDAR, T., J. MANURUNG dan S.J. SIMANJUNTAK.

1989. Penyakit pada Kelinci. Latihan

Keterampilan Budidaya Kelinci. Badan

Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian

Cihea-Cianjur.

ISKANDAR, T., NG. GINTING dan TARMUDJI. 1984.

Pemeriksaan penyakit pada domba dan

kambing tinjauan patologik di Jawa Barat.

Pros. Pertemuan Ilmiah Penelitian Ruminansia

Kecil. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm.

262−266.

ISKANDAR, T. 2000. Masalah skabies pada hewan

dan manusia serta penanggulangannya.

Wartazoa. hlm. 28−34.

MANURUNG, J., S. PARTOUTOMO dan KNOX. 1986.

Pengobatan kudis kelinci lokal (Notoedres

cati) dengan ivermectin atau neguvon.

Penyakit Hewan. 17(29):308−311.

RAHARJO, Y.C. 2005. Prospek, Peluang dan

Tantangan Agribisnis Ternak Kelinci.

Makalah belum di Publikasi.

RONCALLI, R.A. 1987. The history of scabies in

veterinary and human medicine from biblical

to modern times. Vet. Parasitol. 25: 193−198.

SARDJONO, T.W. 1997. Faktor-faktor terhadap

keberhasilan Penanggulangan Skabies di

Pondok Pesantren. Maj. Parasitol. Ind. 11:

33−42.

SMITH, J.B. dan MANGKOEWIDJOJO. 1988.

Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan

Hewan Percobaan di Daerah Tropis. UI-Press.

SOEDARTO, M. 1994. Skabies. Dexa Media. 7: 4−6.

SUNGKAR, S. 1991. Cara pemeriksaan kerokan kulit

untuk menegakkan diagnosis skabies. Maj.

Parasitol. Ind. 61−64.

WIDODO, T.H. 2005. Usaha Budidaya Ternak

Kelinci dan Potensinya. Makalah belum di

Publikasi.

 

Iklan

Leave a comment »

Sumber Protein yang Layak Dilirik: Kelinci

MI/SEM PURBA

KELINCI. Imut tampilannya. Menggemaskan kelakuannya. Namun, kini saatnya untuk mempertimbangkannya sebagai sumber protein alternatif.

Jika bepergian ke daerah di dataran tinggi, misalnya di Guci, Batu, Ambarawa, Lembang, Puncak, dan Kaliurang, maka Anda akan menjumpai banyak rumah makan menawarkan sate kelinci. (Dapat dibilang hal ini agak ‘menyesatkan’, maksudnya asumsi kelinci identik dengan dataran tinggi. Secara ilmiah, binatang pengerat ini hidup di berbagai jenis habitat dari padang rumput, pegunungan, pantai, sampai padang pasir.)

Kembali ke topik santap daging kelinci. Memang konsumsi daging jenis ini belum merakyat di Indonesia. Namun tidak ada salahnya jika Anda–kecuali seorang vegetarian–mencoba meningkatkan frekuensi konsumsi daging yang juga dikonsumsi secara umum di Eropa, Amerika, dan beberapa negara di Timur Tengah. Selama ini mungkin Anda jenuh memakan daging ayam dan sapi. Maka tidak berlebihan daging kelinci yang kaya akan kandungan protein Anda jadikan alternatif. Terlebih lagi, Anda akan gembira mendengarnya: daging kelinci lebih ”ramping” (rendah kandungan lemaknya) daripada daging sapi, babi, bahkan ayam.

Pada umumnya daging kelinci dimasak paggang, menjadi sate. Menurut chef tenar Matt Bittman, Anda dapat mengolah daging kelinci seperti daging ayam. Itu berarti ada berbagai macam menu yang Anda dapat buat: kelinci goreng tepung, kelinci kecap, kelinci goreng mentega, kelinci kuah kelapa, opor kelinci, dan seterusnya. Selamat berkreasi!

http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2010/01/24/2662/8/Sumber-Protein-yang-Layak-Dilirik-Kelinci

Leave a comment »

KHASIAT DAGING KELINCI SEBAGAI OBAT ASMA

KHASIAT DAGING KELINCI SEBAGAI OBAT ASMA

Label:

Selama ini kita mengenal secara tradisi bahwa kalong (kelelawar/codot) mampu menyembuhkan atau minimal meredakan penyakit asma. Bahkan ada pula yang menyatakan anak tikus bisa menyembuhkan. Banyak masalah dengan konsumsi kalong ini, mulai dari mempertanyakan kehalalannya, merasa jijik, ngeri sampai kesulitan dalam mendapatkan binatang malam ini. Kemunculan daging kelinci sebagai alternatif pengganti kalong cukup menggembirakan, mengingat kemudahan dan kelezatannya sudah mulai memasyarakat.
Sebelum jauh, mari kita mengenal lebih dekat dengan Asma.

DEFINISI
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan (sementara) karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan.

PENYEBAB
Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.

Sel-sel tertentu di dalam saluran udara (terutama sel mast) diduga bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini. Sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya:
– kontraksi otot polos
– peningkatan pembentukan lendir
– perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki.
Sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.

Tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama terjadi jika orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin. Stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

Sel lainnya (eosnofil) yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.

GEJALA
Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas dari gejala dan hanya mengalami serangan serangan sesak nafas yang singkat dan ringan, yang terjadi sewaktu-waktu. Penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan. Menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala.

Suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing, mengi, bengek), batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya. Di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk.
Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang penderita asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam, bahkan selama beberapa hari.

Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olah raga juga bisa merupakan satu-satunya gejala.

Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.

Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat.
Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan.
Meskipin telah mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna,

Kadang beberapa alveoli (kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. Hal ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.

PENGOBATAN
Pengobatan segera untuk mengendalikan serangan asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan.

Agonis reseptor beta-adrenergik merupakan obat terbaik untuk mengurangi serangan asma yang terjadi secara tiba-tiba dan untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu oleh olahraga.
Bronkodilator ini merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.
Bronkodilator yang lebih baru memiliki efek yang lebih panjang, tetapi karena mula kerjanya lebih lambat, maka obat ini lebih banyak digunakan untuk mencegah serangan.

Jenis bronkodilator lainnya adalah theophylline.
Jumlah theophylline di dalam darah bisa diukur di laboratorium dan harus dipantau secara ketat, karena jumlah yang terlalu sedikit tidak akan memberikan efek, sedangkan jumlah yang terlalu banyak bisa menyebabkan irama jantung abnormal atau kejang.

Corticosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. Jika digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap corticosteroid akan menyebabkan berkurangnya kecenderungan terjadinya serangan asma dengan mengurangi kepekaan saluran udara terhadap sejumlah rangsangan.
Tetapi penggunaan tablet atau suntikan corticosteroid jangka panjang bisa menyebabkan:
– gangguan proses penyembuhan luka
– terhambatnya pertumbuhan anak-anak
– hilangnya kalsium dari tulang
– perdarahan lambung
– katarak prematur
– peningkatan kadar gula darah
– penambahan berat badan
– kelaparan
– kelainan mental.

Cromolin dan nedocromil diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.

Obat antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium bromida) bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. Lebih jauh lagi, obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik.

Pengubah leukotrien (contohnya montelucas, zafirlucas dan zileuton) merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan asma. Obat ini mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma).

PENGOBATAN UNTUK SERANGAN ASMA

Suatu serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda.

Agonis reseptor beta-adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat berat).
Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita.

Pengobatan asma juga bisa dilakukan dengan memberikan suntikan epinephrine atau terbutaline di bawah kulit dan aminophylline (sejenis theophylline) melalui infus intravena.

Penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan suntikan corticosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah).

Selama suatu serangan asma yang berat, dilakukan:
– pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah
– pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
– pemeriksaan rontgen dada.

Seriusnya selesai…

Pemanfaatan daging Kalong/Codot maupun daging kelinci ditujukan untuk pengobatan secara jangka panjang, jadi harus dilakukan secara rutin.

Bagaimana memasak Kalong sebagai obat?
Cara pertama memasak hampir semua bagian tubuh kalong kecuali sayapnya. Sayap dan kaki kalong di buang. Memasak bisa dengan berbagai menu baik direbus, dicampur sayur atau digoreng. Ini pernah aku lihat di salah satu siaran TV.
Cara keedua. Dapatkan hati kalong, masak seperti kita memasak hati ayam, goreng dan kemudian tumis dengan bawang merah dan bawang putih, makanlah secara teratur.
Tempat-tempat mendapatkan kalong:
1. Desa Gayam Kecamatan Mojokerto Tupamadya, Kediri
2. Pasar Bringharjo Jgja
3. Daerah Bomo, Pacitan Jawa Timur

Secara tradisi, penggunaan herba sebagai obat asma juga sudah dikenal.
Resep herba tradisional untuk mengatasi saat asma datang yakni badan penderita digosok dengan kukuran jahe yang dicampur dengan minyak kayu putih. Bahan alami yang dapat dipakai menyembuhkan asma secara tunggal adalah pegagan atau kaki kuda atawa (Centella asiatica Urban). Caranya, ambil 12 lembar daun pegagan, setelah dicuci kemudian direbus dengan 300 cc air bersih hingga tinggal 200 cc.
Setelah dingin disaring, hasilnya diminum tiga kali sehari masing-masing dalam jumlah yang sama. Lakukan cara ini hingga sesak napas menjadi berkurang. Resep ini juga dapat dipakai menyembuhkan batuk biasa.
Penderita dibiasakan berjemur diri setiap pagi minimal selama 30 menit dan menghentikan kebiasaan merokok.

Daging Kelinci

Daging kelinci ternyata mengandung satu zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa tersebut apabila digabungkan dengan berbagai senyawa lain seperti lemak omega tiga dan sembilan, disinyalir bisa sebagai penyembuh penyakit asma.
Secara teknis, daging penghasil senyawa kitotefin ini berfungsi untuk menstabilkan membran sel mastosit. Asma, yang terjadi lantaran alergi bisa dicegah dengan adanya daging bersenyawa kitotefin itu di dalam tubuh. Sebab daging tersebut merangsang terbentuknya antibodi pada tubuh. Dan apabila antibodi tersebut melekat pada sel mastorit, bisa mencegah pecahnya membran. Pecahnya membran bisa membentuk otot-otot polos saluran napas berkontraksi. Hasilnya, saluran napas menyempit hingga terjadi asma.
Yang perlu diperhatikan mungkin hanya masalah pengolahan daging sebelum dimakan. Sebab kalau sembarangan mengolah bisa mengakibatkan hilangnya kadar kotitefin yang ada. Jadi disarankan tidak mengolah daging dalam kondisi terlalu panas. Suhu yang disarankan untuk memasak daging ini, jangan sampai melebihi 150 derajat Celcius

http://askep-kesehatan.blogspot.com/2008/12/khasiat-daging-kelinci-sebagai-obat.html

Leave a comment »

Penyakit Kulit Pada Kelinci

Moulting (Ganti bulu)

Banyak orang yg memelihara kelinci tidak tahu bahwa kelinci itu bisa ganti bulu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemilik kelinci soal ganti bulu ini.

Kelinci liar ganti bulu dua kali dalam setahun, tetapi kelinci peliharaan memiliki periode ganti bulu yang berlainan. Ada yang ganti bulu secara rutin… misalnya kelinci berbulu panjang akan ganti bulu jika tidak mendapatkan sirkulasi udara yang bagus. Banyak kelinci yang ganti bulu memiliki tanda/ciri-ciri yang disebut “tide mark”. Di daerah yang sedang ganti bulu, kulitnya akan terlihat berwarna gelap. Di daerah yang berwarna gelap inilah, bulu baru akan tumbuh. Beberapa jenis kelinci yang berbulu panjang atau lebat dapat terlihat pitak jika sedang ganti bulu. Ini adalah sesuatu yang normal.

Kelinci yang sedang ganti bulu membutuhkan grooming (dimandikan, disisir, dan semacamnya) yang teratur supaya bulu yang rontok tidak terhisap dan menganggu usus/pencernaan si kelinci. Kelinci yang sedang ganti bulu perlu diberi hay/jerami yang sangat penting supaya usus/pencernaan kelinci tetap lancar.
Waspadalah dengan gejala-gejala gangguan pencernaan. Misalnya di kotoran terlihat ada bulu-bulu. Jika Anda menemukan gejala seperti ini tetapi kelinci Anda masih terlihat sehat, Anda dapat memberikan obat antibiotik (liquid paraffin) sebanyak 5-10 ml. Tetapi jika kelinci Anda terlihat lemas/lesu, dia mungkin mengalami gangguan pencernaan yang parah. Kalau sudah seperti ini, segera ke dokter hewan.

Dalam proses ganti bulu ini, kadangkala ada bulu-bulu yang tidak rontok terutama di bagian pantat (tepat di atas ekor) dan atau bagian perut. Gunakan sisir kucing untuk melepaskan bulu-bulu tersebut.

Ringworm (Cacing gelang)

Ringworm bukan penyakit cacingan, tetapi penyakit akibat infeksi jamur. Gejala penyakit ini adalah iritasi kulit (Mungkin kayak penyakit panu kali yah?)di sekitar kepala yang menimbulkan rasa gatal-gatal. Ringworm harus dibedakan dengan penyakit lain seperti scabs (keropeng) yang memiliki gejala-gejala yang mirip.

Ringworm dapat diobati dengan dua cara:
Cara pertama: Gunakan salep anti jamur di daerah yang bermasalah.
Cara kedua: Gunakan obat anti jamur yang disuapkan ke kelinci. Obat ini bekerja menumbuhkan bulu/rambut sehingga jamur akan mati. Efektifitas obat ini bisa membutuhkan waktu selama beberapa minggu.

Ringworm termasuk ‘zoonosis’ (Penyakit yang dapat menular ke manusia). Jadi berhati-hatilah ketika menyentuh/memegang kelinci yang terinfeksi.

Sumber infeksi dapat melalui hay (jerami), tanah, atau kucing rumah. Kelinci juga bisa tertular ringworm dari manusia. Jadi, jangan lupa untuk melindungi kelinci Anda dari orang-orang yang terinfeksi ringworm.

Infeksi Tungau

Cheyletiella adalah semacam tungau yang sering menyebabkan penyakit kulit pada kelinci. Nama lengkap latinnya: Cheyletiella, Sarcoptes scabiei (Scaby) atau Notoedres cati.

Ciri-ciri infeksi Cheyletiella ini adalah terdapat ketombe di daerah kulit tertentu (seringkali di punggung. Bisa juga di atas ekor atau tengkuk leher). Ketombe ini disebut juga “ketombe berjalan” sebab kita bisa melihat ketombe itu bergerak-gerak karena aktivitas para tungau. Tungau-tungau itu sendiri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Tungau-tungau itu memakan keratin. Oleh karena itu infeksi terjadi di daerah yang banyak bulu-bulu mati: daerah yang sulit dijangkau oleh kelinci untuk digaruk/disisir. Jadi jika kelinci anda sedang bermasalah (sakit gigi, penyakit tulang, kakinya keseleo, obesitas,kekurangan gizi), periksa dengan teliti apakah kelinci Anda kena tungau atau tidak. Segera ke dokter hewan, jika Anda melihat ada gejala penyakit ini.

Cheyletiella dapat menular ke manusia. Jika kelinci Anda terinfeksi tungau, Anda perlu rajin membersihkan rumah, dan mengganti bedding (alas dassar) kelinci. Sebab Cheyletiella kuat bertahan hidup dan dapat menginfeksi kelinci kembali. Konsultasikan dengan dokter hewan Anda untuk memberantas tungau ini secara tuntas.

Fur mites (Tungau bulu)

Fur mites berbeda dengan Cheyletiella, dan jarang ada orang yang mengetahui tungau ini. Mereka biasanya akan menyerang kulit pinggul sampai ke ekor.

Ukuran fur mites sedikit lebih besar dibandingkan dengan Cheyletiella. Tungau ini dapat dilihat dengan mata telanjang sebagai butir-butir kecil yang bergerak-gerak. Warna mereka kontras dengan warna bulu kelinci yang terserang. Hal ini mungkin terjadi karena tubuh tungau ini memiliki dua warna… Warna tubuhnya yang pucat mungkin akan kontras dengan warna bulu kelinci yang gelap dan sebaliknya.

Fur mites tidak menimbulkan masalah jika jumlahnya sedikit. Cara penanggulangannya mirip dengan penanggulangan pada infeksi Cheyletiella.

Ear mites (Tungau telinga)

Tungau telinga Psoroptes cuniculi menyebabkan penyakit yang disebut sebagai “canker”. Tungau menyerang kulit telinga sehingga menimbulkan iritasi kulit. Iritasi kulit ini dapat membentuk kotoran kuping yang keras dalam jumlah banyak (Kelincinya bisa conge-an kali yah maksudnya? ).

Gejala awal penyakit ini kurang terlihat. Kelinci bisa terlihat menggaruk-garuk telinganya atau kelinci merasa sakit jika kupingnya dipegang. Dalam dua minggu, akan terlihat jelas sisik berwarna abu-abu kecoklatan di dalam kupingnya. Jika tidak segera diobati, tungau dan kotoran kuping akan tumpah berceceran ke pipi dan kupingnya.

Penyakit ini perlu diobati melalui konsultasi dengan dokter hewan. Jika kelinci Anda terlihat sangat sakit, mintalah dokter hewan memberinya penawar rasa sakit. Antibiotik juga diperlukan untuk memberantas infeksi bakteri lain. Antibiotik ini dapat diteteskan langsung ke dalam telinga atau disuntikan/disuapkan ke kelinci. Kadang-kadang, proses pembersihan kotoran kuping bisa menimbulkan rasa sakit yang luar biasa bagi kelinci. Jika demikian, kotoran kuping yang keras itu perlu dilunakkan dulu dengan obat. Kemudian kelinci perlu dibius ketika proses pembersihan kotoran itu dilakukan.

Kutu (Fleas)

Kelinci peliharaan jarang terkena kutu. Tapi kelinci peliharaan mungkin dapat tertular kutu dari hewan anjing dan kucing. Ada vaksinasi khusus untuk mencegah penyakit ini. Di Inggris, flea collar (kerah kutu) disarankan untuk dipakai kelinci yang terinfeksi kutu.

Wounds (luka)

Luka pada kelinci bisa jadi bisul/bengkak bernanah. Oleh karena itu, luka luar harus dengan telaten dibersihkan.

Goresan dan luka potong kecil dapat diobati dengan mandi air garam (satu sendok makan untuk 0,568 liter air hangat). Tetapi luka luar yang parah perlu diobati dokter hewan. Luka luar yang besar mungkin perlu dijahit (yang kadang-kadang perlu pembiusan) dan diberi antibiotik untuk mengurangi risiko terkena infeksi.

Luka luar lebih mudah dijahit kalo masih baru. Walau gitu, luka luar tidak harus segera diobati saat itu juga. Dengan kata lain, jika seekor kelinci memiliki luka luar saat tengah malam, pengobatannya di dokter hewan dapat ditunda sampai esok pagi. Kecuali luka luar akibat serangan hewan lain, atau pendarahan yang tidak berhenti walau ditekan langsung selama 20 menit.

Artikel asli ditulis oleh Dr Linda Dykes dan Owen Davies BSVc MRCVS. Artikel ini adalah revisi dari Linda Dykes bulan Februari 2002

Comments (46) »

Penyakit Kelinci

Banyak dari sebagian teman-teman yang sering banget komentar, “kelinci itu lucu tapi terlalu gampang mati”

Dan komentar ini memang sebagian besar ada benarnya juga, jumlah kematian kelinci yang di sebabkan penyakit cukup tinggi, bisa berkisar 15% – 40%. Nah kematian yang paling tinggi terjadi dari masa kelahiran hingga penyapihan.

Faktor penyebab timbulnya penyakit bisa di sebabkan beberapa hal, misalnya : 1. Kelemahan dalam menjaga sanitasi kandang 2. pemberian pakan berkualitas jelek, 3. volume pakan kurang, 4. air minum kotor atau kurang, 5. kekurangan zat nutrisi (protein, vitamin, mineral), 6. tertular kelinci lain yang menderitasakit, 7. perubahan cuaca, 8. dll

Kelinci sakit menunjukkan gejala yang cukup mencolok. Antara lain lesu, nafsu makan hilang, mata sayu, dan suhu badan naik turun. Untuk kelinci yang sakit baiknya di masukkan ke kandang karantina, untuk di rawat sendiri.

Nah untuk posting kali ini abang rabbit mau membahas penyakit kelinci yang sering menyebabkan kematian :

  • Enteritis Kompleks Penyakit ini menyerang alat pencernaan, dan menjadi penyebab kematian paling umum pada kelinci di peternakan. Korbannya anak-anak kelinci yang masih menyusu. Anak kelinci yang sembuh dari penyakit ini pertumbuhan selanjutanya kurang baik. Dikalangan peternak, penyakit ini di kenal dengan beberapa nama, antara lain kembung, mencret, dan bloat. Penyebabnya bisa karena udara lembap, basah, atau terkena angin malam secara langsung, dan cuaca jelek. Kembung juga bisa di sebabkan salah makanan, karena perbandingan serat kasar,protein, dan lemak tidak tepat. Gejala kembung, kelinci berdiri dengan posisi membungkuk, kaki depan agak maju. Daun telinga turun, mata suram memincing. Gigi berkerokot menahan sakit. Kelinci tampak haus, selalu mendekati air minum. Kaki depan di masukkan ke dalam tempat air minum. Ketika buang kotoran, warnanya hijau gelap, bau, lendir menggantung pada dubur. Penyebabnya kandungan serat kasar pakan terlalu tinggi, lebih dari 22%. Pengobatannya dapat dilakukan dengan menyingkirkan hijauan dan air minum yang tersedia.Selama satu hari kelinci diberi pakan hay atau daun kacang kering, diobati dengan antibiotik yang di berikan pada makanan induk yang sedang menyusui atau ke dalam air minumnya. Setelah sembuh dapat diberi pakan seperti biasa. Secara umum enteritis kompleks terjadi karena kelinci salah makanan, jenis makanan yang di berikan tidak cocok atau sering berubah macamnya, terlalu banyak makan hijauan basah, cuaca jelek,kondisi kandang jelek, dan anak kelinci terlalu cepat disapih. Kelinci dewasa yang kurang serat kasar, atau anak kelinci yang terlalu banyak memeperoleh serat kasar juga mudah terserang enteritis kompleks.
  • Pasteurellosis Penyakit ini sering menyerang kelinci dewasa, baik jantan maupun betina. Penyakit ini menyerang alat pencernaan. Penyebabnya kuman Pasteurella multocida. Serangan dimulai dari saluran pencernaan bagian atas. Infeksinya menjalar pada organ-organ lain, terutama uterus, testicles, dan kelenjar susu. Pencegahannya dapat dengan membuang kotoran yang lebih sering dengan dikombinasikan adanya ventilasi yang baik dapat mengurangi timbulnya penyakit karena pasteurellosis.
  • Young Doe Syndrome Penyakit ini terjadi pada kelinci-kelinci betina pada kelompok kelahiran yang pertama dan kedua. Penyebabnya adalah septicemia akibat mastitis sehingga terjadi bengkak pada kelenjar susu. Kuman stapphylorus aureus memasuki kelenjar susu melaui luka pada kelenjar atau puting susu. Karena mastitis, suhu badan induk panas, nafsu makannya kurang. Puting susu bengkak dan keras, sehingga induk tak mau menyusui anaknya. Anaka-anak kelinci mati karena tak mendapatkan susu dari induknya. Induk sakit diisolasi. Penyakitnya dapat di sembuhkan kalau belum terlambat. Obatnya, suntikan dengan Penicilin, Dexatozoon, Sulmethonl, Sulfa Strong atau Oxylin. Selain itu, kandang dibersihkan, di semprot atau di cucui dengan Asepto. Anak-anak kelinci selama induknya sakit di pelihara di kandang lain, diberi Rabbit milk, atau lebih mudahnya bisa di berikan susu kambing etawa sebagai alternatif.
  • Kokkidiosis, Penyakit ini terutama menyerang kelinci yang di pelihara di atas lantai. Penyebabnya kuman parasit (protozoa) yang menyerang usut atau hati. Parasit yang menyerang hati banyak menimbulkan kematian pada anak kelinci. Hati yang terserang kokkidiosis terlihat bercak-bercak puktih kalau di bedah. Penularan penyakit lewat mulut. Bibit penyakit lewat mulut. Bibit penyakit tertelan lewat makanan, air minum, atau sesuatu yang mengandung penyakit yang dijilati kelinci.Pada musim hujan yang panjang dan kondisi peternakan kotor, serangan penyakit ini mudah sekali timbul. Gejala nya kokkidiosis antara lain nafsu makan turun, badan kurus, lesu, dan berat badan terus merosot. Gigi berkerot-kerot menahan sakit, beraknya mencret bercampur darah atau berlendir putih. Pengobatannya, kelinci sakit di obati dengan obat-obatan yang mengandung sulfa untuk menghambat diare. Misalnya, sulfa quinoxalin, Trisulfa, Sulfa Strong, dan Noxal. Dapat juga diobati dengan Stop Diare yang mengandung Tetracycline, atau Eludron yang berupa obat tetes. Sanitasi kandang dan lingkungan dilakukan ketat. Kandang harus bersih dan berventilasi baik. Udara dalam kandang pun segar karena sirkulasinya bagus. Membatasi kunjungan orang dipeternakan dan menjaga kualitas ransum agar bersih dan bermutu baik juga harus dilakukan.
  • Sembelit penyakit ini menunjukkan gejala tak bisa berak. Kencing sedikit sekali. Kelakuan kelinci sangat gelisah. Penyebabnya, pemberian ransum kering kurang diimbangi dengan kebutuhan air minum yang cukup. Imbangan serat kasar dalam ransum kering dengan pakan hijauan kurang tepat. Kelinci kurang gerak karena kandang terlalu sempit. Pengobatannya dilakukan dengan memberi kelinci air minum sebanyak-banyaknya. Sediakan banyak hijauan, sayuran, atau buah-buahan. Selain itu, lepaskan kelinci di luar kandang agar mendapat udara segar dan bergerak sebanyak-banyaknya. Pakan yang seimbang antara ransum kering dan hijauan dapat mencegah terjadinya sembelit. Air minum dicukupi, tambahkan vitamin dan mineral untuk pelengkap gizinya. Kandang yang sudah sempit diganti dengan yang lebih lebar agar kelinci yang tinggal di dalamnya nyaman.
  • Pilek, gejalanya mudah hidung kelinci mengeluarkan lendir berwarna jernih atau keruh, selain itu juga sering bersin-bersin. Kaki depan selalu berusaha menggaruk hidung. Kaki dan bulu badannya ikut basah. Mata sembap, basah, berair. Penyebab penyakit susah dipastikan, mungkin bakteri atau virus. SIfat penyakit sangat menular, menyerang selaput lendir pada saluran hidung. Infeksi dapat menyebar ke tenggorok dan paru sehingga menimbulkan sesak napas. Langkah penanganannya, penderita harus di rawat. Hidung yang penuh ingus disemprot larutan antiseptik, kerak yang mengeras dibersihkan dengan air hangat. Obati kelinci dengan antibiotik seperti Penicilin atau Anticold. Penyakit pilek mudah timbul kalau lingkungan kandang lengas dan basah. Sirkulasi udara yang jelek cepat membantu penyebarannya. Penularan pilek dapat dicegah kalau sanitasi kandang baik, populasi kandang tidak padat, volume pakan cukup dan tinggi nilai gizinya, ternak banyak bergerak, dan cukup mendapat sinar matahari pagi setiap hari.
  • Pneumonia alias radang paru menyerang alat pernapasan, yaitu paru-paru. Penyebabnya kuman Pasteurella Multocida. Gejalanya, kepala sering diangkat tinggi-tinggi karena susah bernapas. Mata dan telinga kebiru-biruan, kadang-kadang keluar cairan bernanah. Kotorannya encer. Penyakit ini biasanya menyerang kelinci yang kondisi badannya agak menurun, terutama induk menjelang melahirkan anak kedua atau ketiga kalinya. Penyebab awal,kelinci di kandang sering terkena aliran angin langsung., udara di dalam kandang lembap, dan pakan bergizi buruk.Penyakit radang paru sukar disembuhkan, kecuali kalau penderita memperoleh pengobatan ketika gejala sakit masih pada tahap permulaan. Obatnya Penicillin, Oxylin, atau Sulfa Strong yang diberikan lewat suntikan.
  • Kudis, penyakit ini menimbulkan gatal-gatal. Bagian tubuh yang terserang mula-mula kepala, lalu menjalar ke mata, hidung, kaki, dan kemudian seluruh tubuh. Penyebabnya kutu Sarcoptes Scabiei sehingga penyakitnya disebut scabesiosis alias kudis. Kutu kudis berbentuk hampir bulat, berkaki empat pasang. Kutu jantan berukuran 0,2-0,24 mm, sementara betina 0,33-0,6 mm, kutu berkembang biak dengan telur, sekali bertelur 40-50 butir. Kutu betina masuk di bawah kulit dengan merusak lapisan kulit bagian atas. Kerusakan kulit menimbulkan luka dan gatal-gatal. Akibatnya timbul infeksi kulit. Kulit kemerah-merahan, bulu rontok, disertai gatal-gatal yang menyiksa. Saking seringnya kelinci menggaruk-garuk dan menggosok-gosokkan badan pada dinding kandang, seluruh badan kelinci akan penuh koreng. Badannya cepat kurus, makan tak mau, dan akhirnya bisa mati. Kelinci terkena kudis harus disingkirkan di kandang isolasi. Bersihkan kandang yang dihuni, lalu disemprot disenfektan (obat pembasmi hama; Asuntal, Neguvan, Notick) dengan cermat. Kandang dijemur dan dibiarkan kosong minimal sampai 15 hari. Untuk penanganannya,kelinci sakit di cukur bulunya di sekitar bagian yang kudisan. Cuci lukanya dengan air hangat. Setelah bersih dan di lap kering, olesi luka dengan obat kudis, misalnya salep belerang, Caviam, atau Scabicid Cream. Pengobatan dilakukan setiap dua hari sekali.
  • Kanker Telinga, penyakit ini di tandai rasa gatal dan sakit pada telinga yang terserang. Kepala sering digoyang-goyangkan dan di geleng-gelengkan. Daun telinga digosok-gosokkan segingga kulit telinganya yang putih menjadi kemerah-merahan. Cairan keluar dari jaringan yang rusak, lalu mengeras membentuk kerak. Kelinci yang terserang menjadi kurus karena gelisah dan tak tenang. Penyakit ini di sebabkan kutu yang hidup di permukaan kulit sebelah dalam telinga. Pada pangkal telinga agian dalam terdapat endapan sisik kekuning-kuningan. Kelinci yang sehat hidup berdekatan dengan penderita harus ikut diobati karena penyakit mudah menular. Bagian telinga yang terserang diolesi dengan obat pembasmi kutu. Obat dibuat dengan campuran 1 bagian jodium, 25 bagian minyak kelapa, dan 10 bagian alkohol. Obat di oleskan menggunakan kapas.

oke deh teman-teman segitu dulu yaa abang rabbit nulis ttg aneka penyakit kelinci. Sebenarnya sih masih banyak lagi, masih ada Ring worm, Favus, dll. Nanti pasti di lanjutin deh 🙂

Source : Buku Kelinci Potong & Hias By B Sarwono

Comments (659) »

Kelinci Scabies Yang Sedang Hamil

Banyak kasus yang terjadi indukan kelinci yang sedang hamil terkena scabies. Scabies ini sendiri sebenarnya di sebabkan oleh kutu yang ukurannya kecilllll sekali. Kutu ini menjalar dan beranak pinak di sekitar kulit kelinci. Ciri-ciri kelinci terkena scabies sering garuk-garuk atau menggeleng-gelekkan kepalanya, karena daerah yang pertama di serang biasanya adalah telinga. Warna kulit pun lama-kelamaan akan memerah dan sedikit bersisik. Sebenarnya hal ini bisa di tanggulangi dengan suntikan anti scabies, hanya sayangnya kelinci yang sedang hamil tidak boleh di suntik karena bisa menyebabkan keguguran.

Jadi gimana dong????

Selain suntikan sebenarnya bisa juga dengan obat oles yaitu campuran alkohol, yodium, dan sulfur. Untuk lebih mudahnya sih bisa di beli di dokter hewan.Atau juga memakai salep, namanya scabiesced. Tapi bukan berarti mudah loh mengobatinya kelinci dengan salep atau obat oles, karena tabiat kelinci yang suka sekali menjilat-jilat. Tapi untuk indukan hamil cuma ini cara yang aman, setidaknya minim resiko.

Nah setelah indukannya melahirkan selang 3-4 hari baru deh kita boleh menyuntik anti scabiesnya. Selang hari itu untuk meminimalkan tingkat stress kelinci paska melahirkan. Kelinci yang sedang menyusui tapi terserang scabies terkadang suka ogah menyusui anaknya, ini di karenakan gatal yang amat sangat yang menderanya, membuatnya tidak betah sedikit berdiam diri ketika anaknya menyusui. Dan akibat terparahnya si anak bisa mati karenanya.

Jadi langkah yang sebaiknya di ambil :

1. Obati ibu kelinci yang sedang hamil dengan obat oles atau salep untuk sementara.

2. Setelah melahirkan selang 3-4 hari bila scabiesnya belum sembuh silakan suntik anti scabies.

3. Bila si ibu tidak mau menyusui anaknya pisahkan terlebih dahulu si anak dengan ibunya, dan untuk sementara berikan susu kambing etawa untuk pengganti susu ibunya, setidaknya agar si anak mampu bertahan tanpa susu ibunya.

4. Setelah sehari ibunya di suntik kembalikan si anak-anak kelinci tadi ke pelukan ibunya dong, biar bagaimanapun mereka lebih suka susu kelinci ketimbang susu kambing 🙂

Salam

Abang Rabbit

http://www.tentangkelinci.wordpress.com

Comments (17) »

Korengan pada Kelinci

Korengan sering sekali terjadi pada kelinci. Biasanya mulai nuncul di daerah telinga, hidung dan kaki. Bentuknya seperti keropeng atau bunga kol. Penyakit ini cepat sekali menjalar apabila tidak segera diobati. Dalam kondisi parah biasanya berakhir dengan kematian.

Penyebabnya adalah sejenis kutu yang hidup didalam kulit kelinci, yaitu Sarcoptes scabiei. Dalam dunia kedokteran penyakit ini dikenal dengan istilah scabies. Penyakit ini termasuk penyakit zoonosis artinya bisa menular ke manusia. Makanya berhati-hatilah apabila menangani kelinci yang terserang scabies.

Selain kelinci, anjing & kucing juga dapat terserang scabies. Demikian juga kambing dan sapi, bisa terserang scabies. Pada jaman dahulu di pedesaan sering digunakan oli bekas untuk mengobati kambing-kambing yang terserang scabies. Namun saat ini sudah tersedia obat yang cukup efektif mengobati scabies, yaitu ivermectin. Sayangnya pemakaian obat ini harus disuntikkan dibawah kulit. Jadi tidak bisa digunakan secara bebas.

Setelah disuntikkan ivermectin, biasanya dalam 1 – 3 hari mulai terlihat perubahannya. Dan dalam waktu seminggu sangat jelas tanda-tanda kesembuhan pada kelinci. (Drh Amir Mahmud – KlinikHewan.com)

Comments (14) »