Archive for penelitian

MANAJEMEN REPRODUKSI DAN TUJUAN PEMELIHARAAN

MANAJEMEN REPRODUKSI DAN TUJUAN PEMELIHARAAN

A. Manajemen Reproduksi :

Dalam menentukan produktifitas ternak, dasar utama yang perlu diketahui adalah sifat reproduksi ternak tersebut. Untuk mendapatkan potensi reproduksi yang baik ada beberapa hal yang perlu di ketahui yaitu pemilihan bibit baik untuk jantan maupun betina, pada kelinci sehat mempunyai ciri-ciri telinga tegak dan bersih, otot paha tebal, mata bersinar dan bulat mulut dan hidung kering dan bersih ekor tegak dan kering juga anusnya kering, bulu punggung panjang dan halus, kuku pendek. Kelinci bibit harus mempunyai kriteria berat sesuai dengan umur dan jenissnya, bulu halus dan licin, mata bersinar, mempunyai catatan perkawinan dan kelahiran sehingga diketahui asal usulnya, bibit diambil dari induk-induk yang mempunyai produksi susu baik, litter size tinggi, pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap penyakit, angka kematian anak rendah, berat lahir dan sapih yang tinggi, induk mempunyai sifat keibuan yang baik.

Sistem perkawinan pada ternak kelinci dapat dilakukan secara alami maupun dengan inseminasi buatan, biasanya dalam mengawinkan kelinci yang betina dimasukkan pada jantan, bilamana kelinci betina sedang birahi, dan biarkan bebnerapa hari sampai terjadi kebuntingan yang ditandai bahwa kelinci betina tidak mau menerima lagi pejantan, sehingga kelinci bisa dikawinkan kapan saja, sex ratio antara jantan dan betina adalah 1 : 10, namun perlu diketahui berahi pada kelinci bersifat induksi yang berarti bahawa bila terjadi rangsangan maka akan terjadi ovulasi, dan ovulasi terjadi 10 jam setelah terjadi rangsangan, dan fertilisasai terjadi 1 – 2 jam setelah ovulasi, daya fertil ovum 6 jam, lama bunting rata-rata 30 hari, siklus estrus 12 – 14 hari ditambah 4 hari masa menolak, umur dikawinkan 5 – 7 bulan atau tergantung pada type kelinci, biasanya type kecil lebih cepat dewasa kelamin dari pada type besar. Bila kelinci menyusui anaknya maka perkawinan kembali dapat dilakukan 28 – 42 hari setelah melahirkan, atau setiap saat bilamana tanpa menyusui. Berat lahir rata-rata pada kelinci 64 gram, dengan pertambahan berat badan sekitar 29 – 30 garam per ekor perhari, dan umur disapih bisa dilakukan lebih cepat yaitu pada umur 28 hari (early Weaning) dan 56 hari (konvensional weaning)

Dalam manajemen perkawinan untuk berbagai tujuan pemeliharaan akan berbeda jumlah ternak awal yang digunakan. Sebagai contoh dengan asumsi litter size 4 ekor sampai umur sapih atau dewasa dengan 1nterval kelahiran 60 hari, (beranak hanya 6 kali per tahun dan ratio jantan betina 1 : 1, serta semua keturunan betina dijadikan induk maka dari 100 induk betina pada akhir tahun kedua dapat dihasilkan hingga 90 ribu ekor kelinci pada berbagai tingkat umur dan lebih dari 60 % berumur kurang dari 1 bulan, dan dari asumsi tersebut diperkirakan untuk produksi 1 lembar kulit dan 1,2 kg daging pada pemeliharaan intensif dibutuhkan biaya Rp. 41.500,- pada tingkat harga pakan Rp. 1800 per kg (Raharjo, 2003). Dengan melihat potensi reproduksinya maka tujuan pemeliharaan untuk mendapatkan produk yang baik perlu diperhatikan.

B. Tujuan Pemeliharaan Kelinci

Dalam memelihara ternak kelinci, harus ada tujuan dari produk utama yang diinginkan, hal ini untuk menunjang keberhasilan dalam usaha ternak kelinci, karena dengan adanya tujuan pemeliharaan maka akan memudahkan dalam penentuan pakan, manajemen kandang, reproduksi, dan pemasaran. Pada dasarnya sebelum memilih bibit peternak harus mementukan bibit yang akan dikembangkan, karena ini akan sangat berpengaruh terhadap tujuan pemeliharaan dan tatalaksananya. Ada beberapa jenis kelinci yang diternakan khusus sebagai penghasil DAGING ( Carolina, Simonoire, Giant Chinchila), KULIT BULU (Rex, Satin), KULIT BULU dan DAGING (New Zealand White, Flemish Giant, Californian, English Spot), WOL (Angora), FANCY (Lop Dwarf, Dutch,Netherland Dwarf).

1. Penghasil Daging

Penyediaan daging untuk memenuhi standar kecukupan- pangan berarti harus meningkatkan produksi ternak.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tampaknya kurang optimistik bila hanya dipenuhi oleh ternak sapi, kerbau, domba, kambing, babi dan unggas saja, karena ternak ruminansia lambat tingkat reproduksinya, sedangkan unggas dan babi meskipun rempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang cepat, masih membutuhkan pakan _yang mahal harganya dan berkompetesi dengan kebutuhan manusia. Untuk dapat memenuhi penyediaan daging dan penganeka ragaman koinoditas hasil ternak, maka perlu dicari jenis ternak yang mempunyai potensi biologis tinggi dan ekonomis sebagai ternak penghasil daging, salah satunva ternak kelinci.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap penghasil daging yaitu bangsa, bobot lahir, bobot sapih, umur potong dan kualitas serta kuantitas pakan yang diberikan. Pemberian pakan pada kelinci tipe pedaging harus diberikan secara ad libitum, dengan kualitas pakan yang diberikan mengandung protein tinggi (16 %) dan Energi Metabolis (2500 Kkal), dengan umur potong 2 bulan dengan berat badan mencapai 2 kg, Untuk produk daging yang dihasilkan ada 2 istilah yang digunakan pada kelinci, yaitu Fryer dan Roaster. Bila daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong umur 8 – 10 bulan dengan berat badan 2 kg, maka daging yang dihasilkan disebut Fryer, sedangkan bila daging yang dihasilkan berasal dari kelinci yang dipotong unr lebih dari 10 bulam disebut Roaster.

Di Amerika dan Eropa , kelinci dipotong secara komersial , dipotong pada umur 8 – 10 minggu, sangat disukai konsumen (90 – 95 % )menyatakan suka, pada umur potong tersebut dicapai berat karkas 50 – 54 %, dan edible meat 70 – 80 % dari berat karkas. Selanjutnya untuk roaster, berat badan lebih dari 2 kg, persentase karkas 55 – 65 %, dengan edibel meat 87- 90 persen dari karkas.

Dalam pemeliharaan ternak kelinci untuk penghasil daging, sisten kandang yang digunakan sebaiknya sistem postal, dan dalam pemeliharaan berkelompok dengan umur yang sama. Dalam manajemen reproduksinya, harus dipikirkan penyediaan induk dan pejantannya, karena dalam perdagangan kita harus berorientasipermintaan pasar yang selalu kontinyu, sehingga kita harus dapat memanage perkawinan dan kelahiran, dalam hal ini diperlukan induk dari keturunan yang besar, bobot lahir yang tinggi, bobot sapih yang tinggi, mothering ability yang baik, umur sapih yang cepat.

2. Penghasil Kulit:

Dalam beberapa hal kulit kelinci mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada daging yang dihasilkan, hal ini disebabkan dari hasil kulit akan selalu memberikan pendapatan yang bermanfaat bagi peternak untuk menggantikan biaya produksinya. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap produksi kulit adalah bangsa, umur potong, jenis kelamin, iklim dan kesehartan ternak. Tata laksana pemeliharaan untuk kelinci penghasil kulit, sebaiknya dipelihara kelinci rex, dan satin, karena kelinci ini mempunyai beberapa keistimewaan diantaranya bulu panjangnya seragam, banyak variasi warna,

Di Balitnak Ciawi Bogor litter size kelinci Rex rata-rata 7 ekor, sapih 5 ekor, interval kelahiran 40,1 ekor berat potong 6 bulan 2,6 – 3,0 kg dengan berat karkas 50 %, luas kulit 1,1 – 1,8 feet2, Sedangkan pada pemeliharaan di daerah pegunungan Pandasari dengan ketinggian 1350 dpl Brebes menghasilkan litter size 6 – 7 ekor, dan sapih 4,2 ekor, kualitas bulu meningkat pada lingkungan yang bersuhu dan kelembaban rendah.

Pada pemeliharaan kelinci penghasil bulu sebaiknya dipelihara pada kandang individu dengan sistem baterry, dan dipotong pada umur 5 bulan untuk mendapatkan kulit yang lebar dan tebal, hasil penelitian Yurmiati (1991) bahwa kelinci yang dipotong umur 5 bulan menghasilkan kualitas yang baik, tidak rontok, tidak menggumpal dan pakan yang diberikan harus dibatasi (restricted feeding) dan secara mikroskopis ternyata bulu berada pada stadium pertumbuhan fase tellogen. Jenis kelamin yang dipelihara tergantung pada tujuan penggunaan kulit yang dihasilkan, bila ditujukan untuk pembuatan sepatu dapat digunakan kulit yang berasal dari kelinci jantan, sedangkan untuk garment, syal , mainan dibutuhkan kulit kelinci betina. Produksi kulit mentah dari kelinci adalah 8 – 10 % dari berat badan. Kualitas Pakan yang diberikan harus mengandung protein yang tinggi (16 -18 %, dengan energi metabolis 2500 Kkal. Ransum yang diberikan sebaiknya komplit pellet, air minum dan pengawasan penyakit, karena sebagai penghasil kulit bulu harus sehat dan tidak cacat, karena kualitas kulit mentah akan mempengaruhi kualitas fur yang dihasilkan.

3. Penghasil Wol :

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap produksi wol adalah bangsa, pakan, musim. Penghasil wol teristimewa adalah Kelinci ANGORA, mempunyai panjang bulu 15 – 20 cm, dapat dicukur sebanyak 4 kali per tahun, dan setelah dicukur, bulu wol akan tumbuh kembali sepanjang 7,5 – 10 cm, dan produksi wol yang dihasilkan 400 gram per tahun, harga per kg 20 – 50 US dollar. Bila dibandingkan dengan produksi wol domba, maka ternak kelinci 3 kali lipat dari produksi wol domba, Menurut Schlolaut (1981) bahwa kelinci Angora dengan berat badan 4 kg, dapat menghasilkan 800 gram wol per t ahun atau 225 gram wol per kg berat badan, sedangkan pada domba produksinya 65 gram wol per kg berat badan.

Dan setelah 1- 2 minggu setelah dicukur, kelinci harus diberikan pakan yang tinggi akan protein dan energy, kandungan protein pakan untuk kelinci penghasil wol 17 % dengan digestible energi 2750 Kkal/kg,dan dibutuhkan pula pemberian asam amino yang mengandung sulfur sebesar 0,8 % dan methionine 0,2 %, serat kasar 16 % dan lemak 2-3 %. Sistem perkandangan yang digunakan untuk penghasil wol adalah syntem baterry dengan pemeliharaan secara individual. Konsusi ransum 200 – 220 gram. Produser penghasil wol kelinci adalah China, Argentina Perancis.

4. Fancy/Kesayangan

Berbicara masalah fancy, yang perlu diperhatikan adalah melakukan berbagai perkawinan baik itu murni maupun antar bangsa, sehingga menghasilkan keturunan yang mempunyai sifat yang baik, warna yang beragam, sehingga dapat menarik minat konsumen, Dalam perdagangan untuk fancy sangat bervariasi dalam harga karena sangat tergantung kepada konsumen dan kelangkaan dari jeninya, dalam pemeliharaan relatif sama, dan dapat dipelihara dalam kandang batery secara individu atau dalam sistem ranch, yaitu sekelompok keluarga. Kebutuhan pakan relatif sama.

dikutip dari
http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/?p=62

Iklan

Leave a comment »

Daging Kelinci Bisa Turunkan Kolesterol

Daging Kelinci Bisa Turunkan Kolesterol

Juli 26, 2007 pada 8:49 am (health)

Moringo Oleifera (daun hijau kacang-kacangan) dapat menurunkan tingkat kolesterol dan konsentrasi glukosa pada kelinci, sehingga bila manusia mengonsumsi daging kelinci dimaksud juga dapat menurunkan kolesterolnya, demikian hasil riset yang dilakukan peneliti asal India, YB Rajeswari.

Hal itu disampaikannya pada hari kedua Konferensi Internasional Pengembangbiakan Kelinci (International Conference on Rabbit Production) di Bogor, Rabu.

“Moringa Oleifera dapat digunakan sebagai pakan suplemen non-konvensional pada ternak yang dapat menurunkan kolestrol kelinci,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tumbuhan tersebut juga dapat digunakan untuk pengobatan pada pasien penderita jantung dan kegemukan.

Dikemukakannya bahwa penelitian yang dilakukan dengan beberapa sejawat peneliti India lainnya itu dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian daun Moringa Oleifera pada periode yang berbeda terhadap konsentrasi haemoglobin dan beberapa parameter serum seperti protein serum, kolestrol serum, trigliserida, dan konsentrasi glukosa.

Selama percobaan, rataan kolestrol serum berkisar antara 84.25+3.17 dan 117.30+1.55., dan konsentrasi glukosa serum berkurang nyata pada tingkat pemberian daun Moringa Oleifera 10%.

Sementara itu, anggota panitia konferensi, Ir Bram Brahmantyo, MSi menjelaskan, kegiatan yang diselenggarakan bersama oleh Indonesia Center For Animal and Development, Indonesian Branch-World Rabbit Science Assosiation (IB-WRSA) serta Pemkot Bogor itu, dihadiri 120 peserta dari berbagai negara dan daerah di Indonesia.

Narasumber yang dihadirkan diantaranya dari Belgia, India dan Meksiko. Acara bertujuan untuk membudidayaakan produksi kelinci dan menarik dana di dunia untuk kelinci.

Ia menjelaskan, salah satu target dari acara ini adalah untuk meningkatkan pendapatan peternak di Indonesia khususnya, dan mengetahui kondisi perkembangan kelinci di negara lain.

Acara yang diikuti oleh para peneliti hewan, dosen, pengusaha ternak dan mahasiswa ini, disajikan dengan dua bahasa, yakni Bahasa indonesia dan Inggris.

“Selama kegiatan konferensi, kami banyak memelajari teknologi dan pemeliharaan ternak dengan efisien,” kata Saeful, pengusaha ternak ayam dari Lampung.

Selain itu, Pusat Penelitian Ternak (Puslitnak) Deptan yang berpusat di Kota Bogor pun ikut andil dalam acara ini, dengan mena,pilkan tujuh jenis koleksi kelinci dan juga menggelar bursa kelinci yang dapat dibeli masyarakat.

“Di sini kami menawarkan jenis-jenis kelinci diantaranya `Pelemig Giant` yang harganya berkisar Rp3-5 juta, jenis `Anggora`, `Ruminansia`, `Raja`, dan `Satin`,” kata Dadi (39), salah satu staf Puslitnak.

Sementara itu, Ketua Panitia konferensi, Dr Yono C Rahardjo menjelaskan, sekurangnya delapan negara dari empat benua mengikuti kegiatan tersebut.

Negara peserta yang hadir adalah Amerika Serikat (AS), Meksiko, India, Belgia, Italia, Hongaria, Nigeria dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Ia mengaku tak menyangka konferensi itu akan mendapat respon luar biasa. Jumlah peserta mencapai 82 orang terdiri dari 55 % peneliti dan akademisi, 10 % pengusaha kelinci, 20 % peternak, 10 % karyawan penyediaan pangan dan sisanya, sebanyak 5 % berasal dari pelajar dan penggemar kelinci.

Menurut dia, konferensi akan diisi dengan pemaparan sekurangnya 46 makalah yang sudah terkumpul. Setelah acara inti selama dua hari di Kota Bogor, peserta akan bertolak ke Lembang, Bandung dan kemudian mengikuti program selanjutnya di Magelang (Jateng) dan Bali.

Walikota Bogor, Diani Budiarto dalam pidato tertulis yang disampaikan Asisten Sosial Ekonomi Setdakot Bogor, Indra M Roesli –saat membuka konferensi hari Senin (24/7)– menyambut baik diadakannya konferensi itu untuk membuka peluang bagi masyarakat luas memanfaatkan bisnis peternakan kelinci.

“Apalagi tema konferensi ini diperuntukkan industri skala kecil dan menengah, yang tentu saja sangat sesuai dengan perkembangan bisnis pertanian saat ini,” katanya.

Ia mengemukakan, kelinci dikenal luas sebagai hewan yang halal dimakan dengan perkembangbiakan yang sangat cepat. Kemudahan dalam berketurunan inilah yang menyebabkan orang mulai melirik kelinci untuk dikonsumsi.

Selain itu, pemeliharaan kelinci juga relatif mudah dan murah, sehingga dapat dipelihara, baik pada skala kecil di rumah tangga maupun skala besar di peternakan.

Potensi tersebut saat ini mulai dimanfaatkan di beberapa negara berkembang karena pemeliharaan kelinci tidak memerlukan lahan yang luas.

Keuntungan potensial yang bisa didapat dari pemeliharaan kelinci adalah memperluas variasi jenis makanan, mendapatkan penghasilan tambahan, menambah lapangan kerja dan meningkatkan produksi daging sehat berkualitas tinggi.

Namun demikian, katanya, minat untuk beternak kelinci ini dinilai masih rendah, walaupun ada kecenderungan meningkat. Di negara berkembang, masalah yang dihadapi peternak kelinci berkisar pada lemahnya permodalan, kurangnya pengetahuan dan penguasaan teknologi, serta kurangnya sumber makanan, lemahnya manajemen dan mutu peternakan

 http://arvan.wordpress.com/2007/07/26/daging-kelinci-bisa-turunkan-kolesterol/

Comments (1) »

BUDIDAYA KELINCI MENGGUNAKAN PAKAN LIMBAH INDUSTRI PERTANIAN SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF

C.M. Sri Lestari, E. Purbowati dan T. Santoso

Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penampilan produksi dan feed cost per gain kelinci yang dibudidayakan menggunakan limbah industri pertanian. Materi penelitian yang digunakan adalah 21 ekor kelinci Vlaamse Reus betina yang berumur 4 bulan dengan rata-rata bobot badan awal 1.488,09 + 129,56 g (CV = 8,71%). Kelinci-kelinci tersebut diberi tiga perlakuan pakan mengikuti pola rancangan acak lengkap. Perlakuan pakan yang diterapkan yaitu T1 = rumput lapangan + ampas tahu, T2 = rumput lapangan + ampas tahu dan bekatul, dan T3 = rumput lapangan + bekatul dan konsentrat komersial. Pakan tersebut disusun secara isoprotein. Data konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan konversi pakan yang diperoleh dianalisis ragam, sedangkan feed cost per gain dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan yang diberikan mempengaruhi konsumsi pakan (P<0,05), tetapi tidak mempengaruhi PBBH dan konversi pakan. Rata-rata konsumsi pakan perlakuan T1, T2 dan T3 berturut-turut 165,05; 157,53 dan 151,85 g/ekor/hari. Pertambahan bobot badan harian yang diperoleh adalah T1 = 31,93; T2 = 30,53 dan T3 = 33,95 g/ekor, sedangkan konversi pakan masing-masing 5,17 ; 5,16 dan 4,47 untuk T1, T2 dan T3. Feed cost per gain untuk masing-masing perlakuan sebesar Rp. 5.543,08/kg (T1), Rp. 6.911,63/kg (T2) dan Rp. 7.000,46/kg (T3). Dari penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa limbah industri pertanian dapat digunakan sebagai pakan kelinci untuk menghasilkan produktivitas yang setara dengan konsentrat komersial dan menurunkan biaya pakan sebesar 20,82% sehingga cocok sebagai alternatif usaha dalam pemberdayaan petani miskin.

Kata kunci : Budidaya, kelinci, limbah industri pertanian

PENDAHULUAN

Sudah sejak lama (sekitar 20 tahun yang lalu), kelinci dipromosikan sebagai salah satu ternak alternatif untuk pemenuhan gizi (khususnya protein hewani) bagi ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak yang kekurangan gizi . Hal ini karena ternak kelinci dapat dijadikan alternatif sumber protein hewani yang bermutu tinggi, dagingnya berwarna putih dan mudah dicerna. Kelebihan kelinci sebagai penghasil daging adalah kualitas dagingnya baik, yaitu kadar proteinnya tinggi (20,10%), kadar lemak, cholesterol dan energinya rendah (Diwyanto et al., 1985), sedangkan menurut Ensminger et al. (1990), daging kelinci berwarna putih, kandungan proteinnya tinggi (25 %), rendah lemak (4%), dan kadar cholesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg (Rao et al. dalam Sartika , 1995).

Menurut Farrel dan Raharjo (1984), kelinci menjadi ternak pilihan karena pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun ternak industri yang intensif. Kelinci juga tumbuh dengan cepat, dan dapat mencapai bobot badan 2 kg atau lebih pada umur 8 minggu, dengan efisiensi penggunaan pakan yang baik pada ransum dengan jumlah hijauan yang tinggi..

Kombinasi antara modal kecil, jenis pakan yang mudah dan perkembangbiakannya yang cepat, menjadikan budidaya kelinci masih sangat relevan dan cocok sebagai alternatif usaha bagi petani miskin yang tidak memiliki lahan luas dan tidak mampu memelihara ternak besar. Di negara sedang berkembang, kelinci dapat diberi pakan hijauan yang dikombinasikan dengan limbah pertanian dan limbah hasil industri pertanian (Sitorus et al., 1982 dan Diwyanto et al., 1985). Limbah industri pertanian seperti ampas tahu dan bekatul dapat digunakan sebagai pakan konsentrat untuk kelinci dan banyak terdapat di lingkungan masyarakat Indonesia.

Ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha pemeliharaan ternak. Keberhasilan usaha pemeliharaan ternak banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan disamping faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik. Agar kelinci dapat berproduksi tinggi, maka perlu dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut Ensminger et al. (1990), pakan kelinci dapat berupa hijauan, namun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, sehingga produksinya tidak akan maksimum, oleh karena itu dibutuhkan pakan konsentrat.

Kendala penggunaan konsentrat pabrik adalah harganya yang mahal sehingga memberatkan petani peternak, karena biaya pakan sekitar 70% dari total biaya produksi. Seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan untuk manusia, maka limbah industri hasil pertanian pun semakin banyak dan dapat menjadi alternatif penyediaan bahan pakan ternak yang potensial termasuk kelinci.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas kelinci dengan pakan rumput lapangan dan berbagai konsentrat yang berasal dari limbah industri pertanian (ampas tahu dan bekatul) yang dibandingkan dengan penggunaan konsentrat pabrik. Selain itu, juga untuk mengetahui feed cost per gain kelinci dengan pakan tersebut sehingga dapat direkomendasikan alternatif usaha budidaya kelinci dengan pakan limbah industri pertanian bagi petani miskin.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tampir Kulon, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang selama 16 minggu. Sebanyak 21 kelinci Vlaamse Reus betina umur 4 bulan dengan bobot badan awal 1.488,09+129,56 g (CV = 8,71%), digunakan dalam penelitian pola Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan ransum, yaitu T1 = rumput lapangan + ampas tahu, T2 = rumput lapangan + ampas tahu dan bekatul, dan T3 = rumput lapangan + bekatul dan konsentrat komersial. Bahan pakan tersebut disusun secara isoprotein sesuai dengan kebutuhan ternak kelinci menurut Cheeke et al.(1982). Kandungan nutrisi bahan pakan penelitian terdapat pada Tabel 1, sedangkan komposisi dan kandungan nutrisi pakan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penelitian

Bahan Pakan

BK

Kandungan Nutrisi dalam 100% BK

Abu

PK

LK

SK

BETN

————————————- (%) —————————

Rumput lapangan

31,26

10,68

13,11

5,40

30,23

40,58

Konsentrat

78,93

6,86

25,94

8,26

4,71

54,23

Ampas tahu

10,14

4,53

22,23

2,55

29,77

40,92

Bekatul

83,05

46,23

9,67

6,78

26,88

40,44

Keterangan: BK = bahan kering, PK = protein kasar, LK = lemak kasar, SK = serat kasar dan BETN = bahan ekstrak tanpa nitrogen.

Tabel 2. Komposisi dan Kandungan Nutrisi Pakan Penelitian

Komposisi dan Kandungan Nutrisi Pakan

Perlakuan

T1

T2

T3

————————- (%) ———————

Komposisi Pakan

– Rumput lapangan

68,30

60,00

60,00

– Ampas tahu

31,70

33,95

0

– Bekatul

0

6,05

13,81

– Konsentrat komersial

0

0

26,20

Kandungan Nutrisi

– Bahan Kering

24,56

27,21

50,88

– Protein Kasar

16,00

16,00

16,00

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang bertingkat sistem bateray yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan sekat kandang dari kawat “strimen”. Ukuran petak kandang adalah panjang 70 cm, lebar 60 cm dan tinggi 60 cm. Kandang tersebut ditempatkan dengan ketinggian 80 cm dari tanah. Masing-masing petak kandang dilengkapi dengan tempat pakan rumput berbentuk V dari bilah-bilah bambu, tempat konsentrat dan air minum berbentuk mangkok dari tanah liat serta tempat garam dari bambu dengan ukuran panjang 20 cm dan diameter 3 cm. Di bawah petak kandang dipasang plastik untuk menampung sisa pakan yang tercecer.

Penelitian dibagi dalam 4 (empat) tahap, yaitu tahap persiapan (2 minggu), adaptasi (2 minggu), pendahuluan (2 minggu) dan pengambilan data (10 minggu). Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah persiapan kandang, alat-alat penelitian, bahan pakan penelitian, dan pemberian obat cacing, obat coccidiosis, obat anti stres dan desinfektan pada kelinci. Pada tahap adaptasi, ternak diberi pakan yang akan dicobakan secara bertahap untuk membiasakan kelinci mengkonsumsi bahan pakan tersebut. Tahap pendahuluan dimulai dengan pengacakan kelinci terhadap penempatan dalam kandang dan perlakuan pakan penelitian. Pada akhir tahap pendahuluan dilakukan penimbangan bobot badan untuk mengetahui bobot badan awal kelinci penelitian. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan adalah pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ternak, penimbangan sisa pakan setiap hari dan penimbangan kelinci setiap 15 hari sekali untuk menyesuaikan kebutuhan pakannya. Pakan diberikan 3 kali sehari, yakni pukul 08.00 WIB sepertiga bagian konsentrat, pukul 11.00 WIB sepertiga bagian rumput lapangan, dan pukul 16.30 duapertiga bagian konsentrat dan rumput lapangan. Pemberian garam dan air minum secara ad libitum.

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi pakan (BK dan PK), pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan dan feed cost per gain (FC/G). Konsumsi BK dihitung dengan menyelisihkan jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah pakan yang tersisa dikalikan kadar BK pakan tersebut. Konsumsi PK diketahui dengan mengalikan kadar PK pakan tersebut dengan konsumsi BK-nya. Pertambahan bobot badan harian dihitung dengan menyelisihkan bobot badan akhir dengan bobot badan awal dibagi lama waktu pengamatan. Konversi pakan dihitung berdasarkan jumlah BK yang dikonsumsi dibagi pertambahan bobot badan selama waktu pengamatan. Feed cost per gain dihitung dengan cara membagi jumlah biaya pakan yang dikonsumsi setiap hari dengan PBBH-nya.

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam, kecuali FC/G dengan analisis diskriptif. Perbedaan yang terjadi diuji dengan uji wilayah ganda Duncan (Steel dan Torrie, 1991).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data konsumsi pakan, PBBH dan konversi pakan disajikan pada Tabel 3. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan yang diberikan mempengaruhi konsumsi pakan (P<0,05), tetapi tidak mempengaruhi PBBH dan konversi pakan.

Tabel 3. Konsumsi Pakan, PBBH dan Konversi Pakan Kelinci Penelitian

Parameter

T1

T2

T3

Konsumsi (g/ekor/hari)

– BK hijauan

56,86

59,79

111,91

– BK konsentrat

108,19

97,74

34,94

– BK total

165,05a

157,53b

151,85b

– PK total

18,92a

14,72b

14,18b

PBBH (g)

31,93a

30,53a

33,95a

Konversi Pakan

5,17a

5,16a

4,47a

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05

Konsumsi Pakan

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa konsumsi BK total kelinci yang mendapat pakan rumput lapangan dan ampas tahu (T1) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kelinci yang mendapat rumput lapangan, ampas tahu dan bekatul (T2) atau kelinci yang mendapat rumput lapangan, bekatul dan konsentrat (T3). Hal ini menunjukkan, bahwa ransum T1 lebih palatabel daripada ransum T2 dan T3. Selain itu, ransum T1 mengandung ampas tahu basah sehingga lebih mudah dikonsumsi oleh kelinci dan dapat meningkatkan konsumsi BK total. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3, bahwa konsumsi konsentrat pada T1 (ampas tahu) lebih tinggi daripada T2 (ampas tahu dan bekatul) dan T3 (bekatul dan konsentrat komersial). Konsentrat komersial dengan bekatul bahkan tidak palatabel, yang ditunjukkan dengan konsumsi konsentrat yang paling rendah, dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Menurut Aritonang dan Silalahi (1992), palatabilitas pakan pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal (kebiasaan, umur dan selera). maupun faktor eksternal (sifat pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan). Lebih lanjut dijelaskan bahwa palatabilitas berkaitan dengan bau, rasa, dan tekstur yang dapat mempengaruhi selera makan. Cassady et al. (1971) menjelaskan bahwa kelinci mempunyai kemampuan yang tinggi untuk membau dan merasakan pakan yang tersedia serta sangat selektif terhadap pakan yang disukai. Menurut Parakkasi (1999), faktor yang dapat mempengaruh konsumsi pakan pada ternak adalah tingkat palatabilitas ternak terhadap pakan yang diberikan dan sifat fisik bahan pakan tersebut.

Konsumsi PK total kelinci dengan ransum T1 lebih tinggi (P<0,05) daripada ransum T2 dan T3. Konsumsi PK total kelinci ini seiring dengan konsumsi BK totalnya. Semakin tinggi konsumsi BK total, maka semakin tinggi pula konsumsi PK totalnya.

Pertambahan Bobot Badan Harian

Pertambahan bobot badan harian kelinci tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Menurut Tillman et al. (1998), faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya. Pada penelitian ini, konsumsi BK dan PK total yang lebih tinggi pada T1 belum dapat memberikan PBBH yang lebih tinggi pula. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kandungan SK ransum dengan konsentrat berupa ampas tahu pada T1 lebih tinggi (29,77%), dibandingkan dengan konsentrat berupa bekatul (26,88%) atau konsentrat pabrik (4,71%), sehingga konsentrat yang dikonsumsi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan PBBHnya, tetapi banyak yang terbuang melalui feces. Sanford dan Woodgate (1981) menjelaskan bahwa apabila proporsi SK dalam ransum naik, maka daya cerna zat gizi pakan secara total turun. Dikemukakan oleh Cheeke (1987) bahwa kelinci memerlukan serat di dalam pakannya, bukan karena nilai gizinya, tetapi untuk mencegah enteritis. Rata-rata PBBH kelinci pada penelitian ini adalah 32,14 g.

Konversi Pakan

Konversi pakan hasil penelitian ini juga tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Hal ini berarti banyaknya pakan yang digunakan untuk meningkatkan per satuan PBBH kelinci relatif sama. Menurut Campbell dan Lasley (1985), konversi pakan dipengaruhi oleh kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh lain serta jenis pakan yang dikonsumsi. Meskipun konsumsi pakan pada penelitian ini dipengaruhi oleh perlakuan pakan (P<0,05), tetapi PBBH dan konversi pakannya tidak berbeda nyata (P>0,05). Hal ini kemungkinan karena kecernaan pakan yang dikonsumsi rendah sehingga ternak tidak mendapatkan cukup zat-zat pakan yang diperlukan untuk berproduksi yang lebih tinggi.

Pada Tabel 3 secara deskriptif terlihat ada kecenderungan pakan yang mengandung konsentrat pabrik mempunyai konversi pakan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini kemungkinan karena kadar SK ransum yang mengandung konsentrat pabrik lebih rendah sehingga ransum yang dikonsumsi lebih mudah dicerna dan lebih banyak zat pakan yang tersedia bagi ternak untuk berproduksi.

Feed Cost per Gain

Feed Cost per Gain adalah biaya pakan yang digunakan untuk meningkatkan 1 kg pertambahan bobot badan. Pada saat ini harga rumput lapangan adalah Rp 150,-/kg, ampas tahu Rp 300,-/kg, bekatul Rp 700,-/kg dan konsentrat Rp 3.500,-/kg. Hasil perhitungan FC/G hasil penelitian ini adalah Rp. 5.543,08/kg (T1), Rp. 6.911,63/kg (T2) dan Rp. 7.000,46/kg (T3). Pada perlakuan T1 ternyata menghasilkan FC/G yang paling baik. Hal ini karena pada perlakuan tersebut dapat menghasilkan FC/G yang terendah, artinya biaya pakan yang digunakan untuk meningkatkan 1 kg bobot badan ternak paling murah.

Apabila diasumsikan biaya pakan sebesar 70% dari total biaya produksi, maka biaya total yang dibutuhkan pada perlakuan T1 adalah Rp. 7.918,69/kg bobot badan. Harga kelinci Vlaamse Reus di pasaran saat ini adalah Rp. 20.000,-/kg bobot badan, sehingga pemeliharaan kelinci dengan pakan rumput lapangan dan ampas tahu dapat memberikan keuntungan sebesar Rp. 12.081,31/kg. Jika harga kelinci setelah digemukkan lebih tinggi daripada sebelum digemukkan karena kualitas dan kuantitas dagingnya berbeda, maka keuntungan yang akan diperoleh peternak akan lebih tinggi pula.

Pada tingkat petani peternak, rumput lapangan bisa didapatkan dengan mudah tanpa membeli sehingga hal ini dapat mengurangi biaya pakan. Hasil perhitungan FC/G pada kondisi seperti ini untuk perlakuan T1 menjadi Rp 4.848,79/kg. Akibatnya biaya total menjadi Rp. 6.926,84/kg, sehingga keuntungan per kg bobot hidup menjadi Rp. 13.073,16. Jadi keuntungan yang diperoleh dari pemeliharaan kelinci dengan ransum yang terdiri dari rumput lapangan dan ampas tahu di tingkat petani peternak lebih tinggi. Apabila rumput lapangan diberi harga Rp. 50,-/kg sebagai biaya tenaga kerja petani dalam mengambil, maka FC/G menjadi Rp. 4.961,75/kg, biaya total Rp. 7.088,21/kg dan keuntungan yang diperoleh menjadi Rp. 12.911,79/kg bobot badan.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah limbah industri pertanian dapat digunakan sebagai pakan konsentrat bagi kelinci untuk menghasilkan produktivitas yang setara dengan penggunaan konsentrat pabrik. Penggunaan konsentrat dari limbah industri pertanian untuk ternak kelinci dapat menurunkan biaya pakan sebesar 20,82% dibandingkan dengan penggunaan konsentrat pabrik, sehingga cocok sebagai alternatif usaha dalam pemberdayaan petani miskin.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, D dan M. Silalahi. 1992. Ketercernaan nutrisi jagung, onggok, gaplek, ampas sagu, ampas bir, dan ampas tahu untuk babi. Majalah Ilmu dan Peternakan 5 (2):18

Cassady, R.B., P.B. Sawin, dan J.V. Dam. 1971. Commercial Rabbit Raising. United States Department of Agriculture, Washington D.C.

Campbell, J.R. dan J.F. Lasley. 1985. The Science of Animal that Serve Humanity. 2nd Ed., Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.

Cheeke, P.R., N.M. Patton dan G.S Templeton. 1982. Rabbit Production. 5th Ed. The interstate Printers & Publisher, Inc., Danville.

Diwyanto, K., R. Sunarlin, dan P. Sitorus. 1985. Pengaruh persilangan terhadap karkas dan preferensi daging kelinci panggang. Jurnal Ilmu dan Peternakan 1 (10):427-430.

Ensminger, M.E., J.E. Oldfield dan W.Heinemann. 1990. Feeds and Nutrition. 2nd Ed. The Ensminger Publishing Co., Clovis

Farrel, D.J. dan Y.C.Raharjo. 1984. Potensi ternak Kelinci sebagai Penghasil Daging. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Parakkasi, A., 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Sartika, T. 1995. Komoditi kelinci peluang agribisnis peternakan. Semianar Nasional Agribisnis Peternakan dan Perikanan pada Pelita VI. Media Edisi Khusus :397-398.

Sitorus, P., S. Soediman, Y.C. Raharjo, I.G. Putu Santoso, B. Sudaryanto dan A. Nurhadi. 1982. Laporan Budidaya Peternakan Kelinci di Jawa Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie, 1991. Principles and Procedures of Statistics. A Biometrical Approach. 2nd Ed., McGraw-Hill International Book Company, Tokyo.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Comments (61) »