How To Tell If A Rabbit Is Ready To Breed (Tanda kelinci anda siap kawin)

Salah satu tanda ketika kelinci betina anda
siap untuk dikawinkan atau mungkin istilah kerennya
sedang ingin kawin :)
selamat mencoba rekans..

Leave a comment »

how to palpate your rabbit

Bingung caranya mempalpasi kelinci anda ketika hamil
video berikut bisa menjadi petunjuk,,
bagaimana mengecek kelinci anda hamil atau tidak :)
selamat mencoba rekan rekan….

Leave a comment »

BEBERAPA PENYAKIT PENTING PADA KELINCI DI INDONESIA

TOLIBIN  I SKANDAR

Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

Ternak kelinci merupakan salah satu aset petani yang sangat berharga. Di samping sebagai tabungan,

kelinci juga sebagai penghasil daging yang tinggi kandungan protein dan rendah kolesterol dan trigeliserida

dan dapat dibuat dalam bentuk produk olahan, seperti abon, dendeng, sosis, burger, dan bentuk cepat saji

seperti sate. Selain itu sebagai penghasil kulit bulu (fur), juga menghasilkan wool, sebagai hewan coba dalam

dunia kedokteran dan farmasi, menjadi idola atau kelinci kesayangan dengan harga jual relatif tinggi, kotoran

dan urine sebagai pupuk organik yang bermutu tinggi untuk tanaman sayuran dan bunga. Berbagai jenis

ternak kelinci yang sudah dikembangkan di Indonesia seperti Lops, Fuzzy, Tan, Jersey Wooly, New Zealand

White, Netherland Dwarf, Yamamoto, Silver Fox, Dwarf Hotot, Rex, Satin, Angora, Tris Mini Rex. Kelinci

mampu melahirkan 10–11 kali per tahun dengan rataan 6–7 anak per kelahiran oleh sebab itu kelinci mudah

berkembang biak dan tumbuh dengan cepat. Salah satu kendala yaitu penyakit. Penyakit yang menyerang

kelinci di Indonesia yaitu Kudis, Koksidiosis, Pasteurellosis, Mukoid Enteritis, Penyakit Tyzzer, Sifilis, Ring

worm, Kecacingan, Mastitis, Radang mata. Keberadaan penyakit eksotik perlu diwaspadai mengingat lebih

banyak beternak kelinci impor daripada kelinci lokal. Kudis disebabkan Sarcoptes scabiei perlu perhatian

khusus karena menular ke manusia, seperti Pasteurellosis. Penyakit Koksidiosis, Mukoid Enteritis dan

Penyakit Tyzzer sangat mudah menyebar ke koloni kelinci. Beberapa penyakit kelinci dipaparkan mengenai

diagnosis, gejala klinis, isolasi ternak sakit dan pengobatannya

 

PENDAHULUAN

Kelinci adalah hewan percobaan yang

penting, dan juga penting untuk produksi

daging. Oleh karena itu, informasi di bawah ini

berguna juga untuk peternak kelinci dan untuk

mereka yang menggunakan kelinci di

laboratorium. Disamping itu kelinci merupakan

satwa harapan, binatang kesayangan karena

menarik dan lucu, kulit bulunya dan

kotorannya bisa dijadikan pupuk organik yang

sangat baik. Berbagai faktor teknis yang

menghambat dalam pengembangan kelinci

antara lain (1) kurangnya ketersediaan bibit

bermutu, (2) tingginya mortalitas, (3) harga

pakan yang mahal untuk skala komersial, (4)

terbatasnya teknologi produksi yang tersedia

dan (5) kurang sosialisasi dan promosi peranan

kelinci di masyarakat (INOUNU dan RAHARJO,

2005).

Kendala mortalitas yang tinggi salah satu

diantaranya yaitu penyakit, menurut HAGEN

(1976) penyakit disebabkan bakteri seperti:

Pateurellosis, Listeriosis, Necrobacillocillosis,

Salmonellosis, Staphylococcosis

Sphirochetosis, Tularemia, dan Tyzzer′s

Disease. Penyakit disebabkan virus seperti:

Myxomatosis, Rabbit Pox, Fibroma, Herpes

Virus Rabbit, Rabbit Papilloma. Penyakit

disebabkan cendawan seperti: Ring worm, dan

Pavus. Penyakit disebabkan parasit yang

termasuk Ekto parasit (Ekternal parasites) yaitu

kudis pada daun telinga dan kulit karena

Psoroptes cuniculi, Fleas dan Ticks seperti:

lalat Spilopsyllus cuniculi, Ctenocephalides

canis, dan C. felis, juga caplak Haemaphysalis

leporispalustris. Penyakit karena Endo parasit

(Internal parasites) seperti: Koksidiosis,

Nosematosis, Roundworms, Tapeworms.

Sedangkan penyakit yang menyerang

kelinci di daerah tropis menurut SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO (1988) yaitu:

Salmonellosis, Pasteurellosis (Haemorrhagic

Septicaemia), Koksidiosis, Skabies, Mucoid

Enteritis (ME), Penyakit Tyzzer dan Sifilis.

Saat ini rata-rata konsumsi daging secara

nasional masih rendah yaitu kurang dari 2

kg/kapita/tahun dan diperkirakan akan

mencapai 3 kg/kapita/tahun sehingga

peningkatan konsumsi dan peningkatan

penduduk akan memerlukan pasokan sapi

potong sekitar 1,5 juta ekor per tahun (MAKKA,

2005).

Produk utama yang yang dihasilkan kelinci

adalah daging sehat, yang tinggi kandungan

protein, dan rendah kolesterol dan trigleserida

dan dapat dibuat dalam berbagai bentuk produk

olahan, seperti sosis, abon, dendeng, nugget,

burger dan lainnya. Selain itu, jenis kelinci Rex

dan Satin menghasilkan kulit bulu (fur) untuk

produk kulit bulu ekslusif, dan kelinci Angora

menghasilkan wool yang memiliki nilai

ekonomi tinggi (RAHARJO, 2005).

WIDODO (2005) melaporkan pada saat ini

kelinci masih diusahakan secara sambilan

dengan kapasitas masing-masing peternak

sekitar 25 s/d 50 ekor per kandang, tetapi ada

beberapa peternak yang memiliki lebih dari

100 ekor, diternakan di Desa Candi, Pakunden,

Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang

Propinsi Jawa Tengah. Nama kelompoknya

yaitu Kelompok Peternak Kelinci Mandiri

(KPKM) yang berdiri sejak 8 Oktober 2002

dengan jumlah anggota 55 orang mempunyai

populasi kelinci dewasa lebih dari 840 ekor

dengan jenis yang bermacam-macam seperti:

Satin, Rex, Lyon, Vlamsereus, New Zealand

White, Giant Chinchilla, American Giant, Lop

Dwarf, Polish, Dutch, Chekered Giant. Juga

diternakkan kelinci lokal dan semi lokal.

Pola pengembangan usaha ternak kelinci

dilaksanakan dengan wawasan agribisnis yang

diselaraskan dengan potensi riil dari

permintaan pasar yang ada. Sejak tahun 1981

Ditjen Peternakan melaksanakan penyebaran

dan pengembangan ternak kelinci di 10

propinsi yaitu Sumut, Lampung, Sumsel, Jabar,

Jateng, DIY, Jatim, Sulsel, NTB, dan NTT

sebanyak 5 juta ekor dengan pola bergulir dari

Village Breading Centre untuk kemudian

disebarkan kepada peternak. Kemudian pada

tahun 1998/1999 menyebarkan ternak kelinci

Rex untuk tujuan produksi kulit bulu (fur) di

Kabupaten Tabanan, Bali dan Banjarnegara

serta Brebes, Jawa Tengah. Pola yang

dikembangkan juga dengan sistem bergulir

dengan membentuk Rabbit Multiplication

Centre (RMC) sebagai tempat perbanyakan

untuk kemudian disebarkan kepada masyarakat

(MAKKA, 2005).

Dengan berkembangnya peternakan kelinci

maka perlu dipertimbangkan adanya penyakit

sebagai salah satu kendala dari angka

mortalitas yang tinggi (ISKANDAR et al., 1989).

BEBERAPA PENYAKIT PENTING PADA

KELINCI

Kudis (mange)

Kudis pada kelinci umumnya disebabkan

oleh tungau Psoroptes cuniculi, Chorioptes

cuniculi, Notoedres cati, dan Sarcoptes scabiei,

juga kutu Haemodipsus ventricosus.

Berdasarkan lokasi, penyebab, dan tanda-tanda

klinis dibedakan:

Kudis pada liang telinga

Penyebabnya adalah tungau Psoroptes

cuniculi dan atau Chorioptes cuniculi (SMITH

dan MANGKOEWIDJOJO, 1988; MANURUNG

et al., 1986; ISKANDAR et al., 1989). Tungau

ini memulai serangannya di dasar rambut liang

telinga, parasit mengisap cairan kulit,

membentuk lepuh-lepuh berisi cairan yang

apabila pecah menimbulkan kegatalan. Dengan

tanda-tanda klinis kelinci selalu menggoyanggoyangkan

kepala, menggaruk-garuk daun

telinga mengakibatkan lepuh akan pecah,

sering disertai infeksi sekunder lama kelamaan

timbul keropeng-keropeng hal ini dapat

menyumbat liang telinga bila dibiarkan akan

menimbulkan meningitis ditandai dengan

kepala berputar (torticolis), gerak-gerakannya

tidak terkontrol (ataxia) dan akhirnya mati.

Penyakit ini dilaporkan MANURUNG et al.

(1986) tetapi mendapat infeksi campuran

dengan Notoedres cati di Bogor.

Kudis kulit

Tungau ini mulai menyerang sekitar mata,

pipi, hidung, kepala, jari kaki kemudian meluas

ke seluruh permukaan tubuh. Penyebabnya

Sarcoptes scabiei dan Notoedres cati juga kutu

Haemodipsus ventricosus (SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO, 1988; MANURUNG et al.,

1986; ISKANDAR et al., 1989). Pada infestasi S.

scabiei dan N. cati memperlihatkan gejala:

kelinci menggaruk-garuk terus sehingga bulu

muka, kepala, pangkal telinga, sekeliling mata

dan kaki rontok. Pada infestasi berat, kulit di

sekeliling telinga dan hidung dapat berubah

bentuk. Tungau ini cepat menyebar ke seluruh

koloni kelinci. S. scabiei dapat menginfestasi

ke manusia karena bersifat zoonosis, jika

menyerang sudut mulut kelinci maka kelinci

sulit makan sehingga menimbulkan kematian.

Penyakit ini menyerang kelinci di Lombok

(ANONIMOUS, 1993). Sedangkan ISKANDAR et

al. (1989) melaporkan skabies di Sumedang

(Jawa Barat).

Diagnosis dan pemeriksaan laboratorik

Dasar diagnosis kudis adalah gejala klinis

seperti gatal-gatal seperti yang diuraikan di

atas. Cara diagnosa kudis pada gambaran

gejala klinik dalam prakteknya sulit ditetapkan

karena berbagai penyakit kulit lainnya

memberikan gambaran klinis yang mirip

dengan kudis (SUNGKAR, 1991).

Diagnosis infestasi kutu dibuat dengan

identifikasi kutu pada kelinci. Tungau dapat

diidentifikasi dengan pemeriksaan mikroskopis

dengan kerokan kulit kemudian diletakkan di

gelas obyek dan dijernihkan dengan larutan

KOH 5−10%, kemudian ditutup dengan kaca

tutup, selanjutnya diperiksa di bawah

mikroskop (ISKANDAR, 1982; ISKANDAR et al.,

1984; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Membuat tes tinta terowongan dengan cara

menggosok papula yang terdapat pada kulit

menggunakan ujung pena yang mengandung

tinta. Etelah papula tertutup oleh tinta dan

didiamkan selama 20−30 menit, tinta kemudian

diusap/diharus dengan kapas yang dibasahi

alkohol. Tes ini dinyatakan positif bila tinta

masuk ke dalam terowongan dan membentuk

gambaran khas berupa garis-garis zig-zag

(HOEDOJO, 1989; ISKANDAR, 2000).

Pengobatan dan pengendalian kudis

Peninggalan sejarah menunjukkan bahwa

kudis dan cara pengobatannya telah dikenal

sejak kira-kira tiga ribu tahun yang lalu

(RONCALL, 1987). Penyakit kudis pada kelinci

dapat disembuhkan dengan Neguvon 0,15%

dan Asuntol 0,05–0,2% (MANURUNG et al.,

1986). Salep Asuntol 0,1% dapat

menyembuhkan scabies pada kelinci

(ISKANDAR et al., 1989). Kelinci yang kena

infestasi tungau harus diasingkan dan diobati

campuran belerang dengan kapur 5 berbanding

3 atau Pirantel pamoat (Canex) dicampur

vaselin (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Bisa diobati Ivermectin dengan dosis 0,2

mg/kg berat badan diberikan sub kutan dengan

selang waktu 7 hari. Kudis pada liang telinga

dibersihkan dengan H2O2 3%, keropengkeropeng

dibuang, tetesi dengan tetes telinga

yang dicampur antibiotik dan fungisida

(ISKANDAR et al., 1989).

Dalam melakukan pencegahan dan

pengendalian penyakit kudis perlu diperhatikan

pola hidup, sanitasi, pemindahan kelinci,

karantina, dan pengobatan. Pola dan kebiasaan

hidup yang kurang bersih dan kurang benar

memungkinkan berlangsungnya siklus hidup

tungau (S. scabiei) dengan baik. Sanitasi

termasuk kualitas penyediaan air yang kurang

dan ternak yang terlalu padat perlu dihindari

(SARDJONO et al., 1997). Pemindahan hewan

dari satu tempat ke tempat lain perlu

penanganan yang serius. Perlu diperhatikan

Surat Keputusan Menteri Pertanian no.

422/kpts/LB-720/6/1988 yaitu peraturan

karantina tentang penyakit kudis yang

menyatakan bahwa penyakit kudis, skabies,

mange dan demodekosis termasuk penyakit

golongan 2 nomor 51. Hewan yang peka

adalah ruminansia, kuda, babi, dan kelinci

dengan masa inkubasi 14 hari, lama hewan di

karantina 14–30 hari. Setiap hewan tersangka

skabies harus diisolasi dan diobati.

Jika ada hewan terkena skabies, sebelum

memulai terapi sebaiknya peternak diberi

penjelasan yang lengkap mengenai penyakit

dan cara pengobatannya, sehingga dapat

meningkatkan keberhasilan terapi. Mengingat

masa inkubasi yang lama, maka semua ternak

kelinci yang berkontak dengan hewan

penderita perlu diobati meskipun tidak ada

gejala klinis atau hewan penderita diisolasi.

Hewan penderita yang berada di tengah

keluarga sulit untuk diisolasi. Pakaian yang

dicurigai harus dicuci dengan air panas atau

disetrika, alat rumah tangga dan kandang juga

harus dibersihkan, meskipun tungau tidak lama

bertahan hidup di luar kulit hewan maupun

manusia (HAGEN, 1982; HARTADI, 1988;

SUNGKAR, 1991; SOEDARTO, 1994; ISKANDAR,

2000).

Penyakit ini sering dikacaukan dengan

Ringworms dan Pavus.

 

Koksidiosis

Pada kelinci terdapat dua bentuk

koksidiosis yaitu bentuk hati disebabkan oleh

Eimeria stidae dan bentuk usus disebabkan

oleh E. magna, E. media, E. irresidua atau E.

perforans. Eimeria spp lain jarang ditemukan

di usus kelinci (HAGEN, 1976; SMITH dan

MANGKOEWIDJOJO, 1988; ISKANDAR, 2001).

Hewan yang sudah sembuh dari penyakit ini

sering menjadi karier.

Berbagai bentuk koksidiosis tersebut tidak

selalu menimbulkan gejala mencret. Penyakit

bisa tanpa memperlihatkan gejala, atau

kematian dapat terjadi hanya sesudah beberapa

hari setelah infestasi. Kelinci muda lebih sering

terjadi terkena oleh koksidiosis bentuk hati

dengan gejala-gejala berupa mencret, nafsu

makan hilang, dan bulu kasar. Kelinci tidak

tumbuh normal, badan kurus dan tidak tampak

sehat. Pada bentuk usus, gejala biasanya

tumbuh lambat, nafsu makan hilang dan perut

kelihatan buncit. Siklus hidup Eimeria bisa

dilihat pada Gambar 1.

Diagnosis dapat dibuat dengan identifikasi

ookista pada pemeriksaan tinja atau dengan

pemeriksaan histopatologi usus dan hati. Pada

 

pemeriksaan pascamati. Lesi koksidiosis

disebabkan oleh E. stiedae menunjukkan

bintik-bintik putih atau kista di hati seperti

pada Gambar 2.

Pada kasus akut, lesi ini mempunyai tepi

jelas tetapi kemudian lesi akan bergabung satu

sama lain pada kasus kronis. Pada pemeriksaan

histopatologik bintik-bintik tersebut tampak

hiperplasia saluran empedu dan banyak

ditemukan ookista. Lesi pada bentuk usus

bervariasi, kasus akut jarang memperlihatkan

lesi, sedang kasus kronis tampak usus menebal

dan pucat.

Koksidiosis dapat dikendalikan dengan

pengelolaan koloni hewan yang baik dan

mengobati kelinci dengan 0,05%

Sulfakuinoksalin dalam air minum selama 30

hari. Bisa juga Amprolium 30–250 mg/kg

pakan. Nitrofurason dapat dipakai dengan dosis

0,5–2,0 g/kg berat badan untuk pengobatan,

atau 0,5–1,0 g/kg untuk pencegahan

koksidiosis usus (HARKNESS dan WAGNER,

1983).

Eimeria sp ini tidak dapat menginfeksi

manusia. Penyakit ini dapat dikacaukan dengan

Enteritis, Diare, Bloat atau Kembung perut

(Timpani).

 

 

 

 

Pasteurellosis (Haemorrhagic septicaemia)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri

Pasteurella multocida. Nama lain adalah

Bacterium leptiseptica, Bacillus leptiseptica,

Pasteurella leptiseptica dan Pasteurella septica

(HAGEN, 1976; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO,

1988). Penyakit ini sering ditemukan dalam

koloni kelinci laboratorium dan sangat menular.

Pasteurellosis dapat menyebar secara langsung

jika kelinci sehat kontak dengan yang sakit

atau tidak langsung yaitu kelinci sehat

dipindahkan ke kandang penderita tanpa di

sterilisasi. Pada kelinci sering menimbulkan

kekebalan ringan sesudah kelinci terinfeksi.

Beberapa hewan dapat menjadi karier meskipun

tampak sehat, dan mungkin hewan ini menjadi

sumber infeksi dalam koloni kelinci.

Penyakit ini biasanya bersifat kronik

dengan gejala ke luar eksudat encer atau nanah

dari hidung dan mata. Bulu kaki depan

terutama di sekeliling kuku tampak kusut dan

banyak eksudat kering. Kadang-kadang disertai

pneumonia, pyometra, orchitis, otitis media,

conjunctivitis, subcutaneus abces dan

septicemia (HAGAN, 1976; HARKNESS dan

WAGNER, 1983). Kelinci yang sakit biasanya

bersin dan batuk bisa diakhiri dengan

kematian. Dalam bentuk akut, kelinci sakit

tiba-tiba mati. Jika kelinci sembuh bisa sebagai

karier.

Diagnosis penyakit

Penyakit ini dapat diagnosis dengan isolasi

dan identifikasi bakteri dari paru-paru kelinci

sakit (HAGAN, 1976; HARKNESS dan WAGNER,

1983).

Jika diadakan pemeriksaan pascamati,

ditemukan radang akut sampai kronik di

selaput lendir saluran pernapasan dan paruparu.

Biasanya lesi disertai rinitis, sinusitis,

otitis, meningitis dan bronkhopneumonia.

Abses dapat ditemukan di tubuh kelinci

terutama di kepala. Dalam keadaan akut terjadi

septisemia biasanya kelinci mati dalam waktu

48 jam. Pemeriksaan pascamati pada bentuk

akut tampak kongesti pembuluh darah sistim

pernapasan, trakeaitis, kelenjar pertahanan

membesar dan perdarahan di bawah kulit.

Hewan yang terinfeksi P. multocida sebaiknya

dibinasakan biasanya diobati tidak akan

berhasil. Seluruh kandang dan kamar kelinci

juga peralatannya harus disterilkan.

Penyakit ini bisa menular ke manusia,

tetapi sangat menular ke kelinci lain dan hewan

percobaan

Mucoid enteritis (ME)

Penyakit ini menimbulkan radang usus

dengan mortalitas yang tinggi terutama

menyerang kelinci umur 7–10 minggu.

Penyebabnya belum bisa dipastikan (HAGEN,

1976; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Beberapa bakteri bisa diisolasi dari kelinci

penderita yaitu Coliform bacilli dan anaerobic

bacteria, juga virus dan koksidia.

Gejala-gejala ME adalah napsu makan

hilang, polidipsia (banyak minum) dan suhu

badan di bawah normal (37–38°C). Kelinci

kelihatan depresi dengan sikap merangkakrangkak

dan bulu kasar, mencret, kurus,

lambung menggembung, usus kecil dan usus

besar menggembung isinya gas dan cairan

usus. Kulit disekitar anus kotor dengan lendir

atau tunja kuning dan cair.

Pada pemeriksaan pascamati, tidak

ditemukan lesi yang jelas. Lambung dan usus

biasanya banyak ditemukan gas dan cairan,

juga bisa isi sekum gas dan kering, kolon berisi

lendir yang kental dan jernih, katong empedu

membesar. Pemeriksaan histopatologis pada

usus kecil banyak ditemukan hiperplasia sel

goblet.

Diagnosis penyakit ME

Dengan melihat gejala klinis yaitu

dehidrasi, mencret berlendir, perut kembung

dan pemeriksaan pascamati. Penyaki ini pernah

menyerang kelinci pada kandang hewan coba

di Balai Penelitian Veteriner Bogor (ISKANDAR

et al., 1989).

Tidak ada pengobatan spesifik untuk

penyakit ME Dapat dicoba dengan antibiotik

agar tidak terjadi infeksi bakteri, juga diberi

rumput kering dalam ransum yang bergizi.

Penyakit ini tidak menular ke manusia.

Penyakit Tyzzer

Penyakit ini disebabkan oleh Bacillus

piliformis. Penyakit jarang terjadi pada koloni

kelinci, kadang-kadang dikacaukan dengan

penyakit ME. Sebagai paktor disposisi timbul

penyakit ini yaitu stres.

Gejala penyakit yaitu diare, dehidrasi dan

kematian yang cepat, biasanya dalam 24–48

jam. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi,

lebih dari 50% koloni kelinci menderita sakit

dan lebih dari 90% kelinci yang sakit dapat

mati. Kelinci yang bertahan hidup tumbuhnya

lambat dan nafsu makan menurun.

Pada pemeriksaan pascamati mukosa usus

kecil dan usus besar berkaca-kaca tandanya ada

peradangan dan ditemukan perdarahan

berbintik. Pada hati sering ditemukan masa

foki pucat sebesar kepala jarum pentul. Pada

pemeriksaan histopatologis tampak nekrosis

berat di mukosa epitel usus besar khususnya di

sekum. Dengan pewarnaan khusus, yaitu

Giemsa atau Periodic acid Schiff, dapat dilihat

kumpulan organisme berbentuk filamen,

terutama dalam sel epitel usus yang tidak

berlesi. Pada hati ditemukan banyak fokal

nekrotik, dan di tepi lesi dapat ditemukan

kumpulan organisme dalam sel.

Diagnosis penyakit

Penyebab penyakit dapat ditemukan pada

organ usus atau hati dengan cara mengisolasi

bakteri dengan cara in ovo yaitu menyuntikan

ke dalam kuning telur ayam tertunas.

Pengobatan

Penyakit Tyzerr sulit untuk diobati. Kalau

penyakit ini menyerang koloni kelinci, seluruh

koloni kelinci harus dibinasakan dan memulai

koloni baru dengan kelinci yang bebas dari

penyakit ini. Koloni baru ini harus ditempatkan

dalam gedung terisolasi dari koloni mencit,

hewan mencit lebih mudah tertular penyakit

Tyzerr. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis

(SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Sifilis

Penyakit ini disebabkan oleh Treponema

cuniculi dan sering ditemukan dalam koloni

kelinci yang higienenya sangat jelek. Kedua

jenis kelamin kelinci ini dapat terinfeksi pada

saat kopulasi.

Gejala klinis bulu disekitar kemaluan luar

rontok dan berbintik-bintik seperti kudisan.

Kelinci sakit tidak boleh dikawinkan.

Pengobatan mengunakan antibiotik seperti

penisilin 50.000 unit tiap hari sampai sembuh

(10–14 hari). Kelinci yang sembuh tidak

bersifat karier dan bisa dikawinkan lagi.

Penyakit ini tidak menular ke manusia

(WIDODO, 2005).

 

Mastitis (radang ambing)

Penyakit ini disebabkan Staphylococus sp,

biasanya menyerang kelinci yang menyusui

terutama kelinci ras pernah terjadi kasus di

Kabupaten Magelang (WIDODO, 2005).

Gejala klinis bagian putting susu

membengkak dan mengeras berwarna merah

muda. Bila diraba terasa panas dan keras, jika

tidak diobati warna kulit sekitar putting susu

berwarna gelap kemudian pecah.

Pencegahan: lingkungan kandang harus

tenang jauh dari kebisingan agar induk tidak

gelisah. Penyapihan jangan dilakukan

mendadak dan cukup waktunya, periode sapih

antara 40–45 hari. Induk yang sedang

menyusui jangan dipindah tempat dari kandang

saat melahirkan agar tidak stres. Penyakit ini

tidak menular ke manusia.

Conjunctivitis (radang mata)

Penyakit mata ini penyebabnya Moraxella

sp. Tanda-tanda penyakit yaitu mata merah dan

mengeluarkan cairan (eksudat) pernah di

laporkan (ISKANDAR et al., 1989).

Pengobatannya dengan pemberian Sulfathiazole

5% Opthalmia Ointment, Salep mata yang

mengandung antibiotik. Penyakit lain yang

dilaporkan WIDODO (2005) di Magelang yaitu

Kecacingan karena cacing pita (Taenia

pisiformis). Pengobatan bisa menggunakan

Thiabendazole.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan

sebagai berikut:

Penyakit koksidiosis merupakan penyakit

yang umum di peternakan kelinci yang banyak

menimbulkan kematian dapat bersifat akut dan

fatal. Perlu pencegahan dan pengobatan dengan

menggunakan koksidiostat baik melalui air

minum, pakan yang paling efektif koksidiostat

dalam keemasan kapsul. Seperti

Sulfakuinoksalin, Nitrofurason, Robenidin,

Clopidol. Kelinci yang sembuh dari penyakit

ini sering menjadi karier.

Penyakit kudis sering menyerang kelinci

yang diternakkan kurang higienis kelinci yang

terserang harus diisolasi dan diobati dengan

salep Asuntol 2%, Ivermektin.

Tindakan vaksinasi dapat dilakukan untuk

pencegahan penyakit Tyzzer dan atau

Pasteurellosis, apabila ada kelinci yang

menderita Pasteurellosis dan atau Tyzzer lebih

baik dibinasakan untuk penyakit Radang mata

dan Kecacingan bisa diobati dengan

menggunakan salep mata yang mengandung

antibiotik dan obat cacing.

Pengendalian penyakit pada kelinci tidak

berbeda dengan cara-cara pengendalian pada

penyakit hewan menular lainnya. Kewaspadaan

dini terhadap penyakit sangatlah penting untuk

mengantisipasi kejadian wabah penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

ANONIMOUS. 1993. Skabies menyerang Lombok.

Kompas 14 Agustus.

HAGEN. 1976. Domestic Rabbits: Disease and

Parasites. Veterinarian, Western Region.

Agricultural Research Service. Departement

of Veterinary Pathology. Iowa State

University. Ames. Iowa.

HARKNESS, J.E. and J.E. WAGNER. 1983. The

Biology and medicine of Rabbits and Rodents.

2nd. Ed, Lea and Febiger, Philadelphia. pp..

1−112.

INOUNU, I. dan Y.C. RAHARJO. 2005. Ketersediaan

Teknologi dalam mendukung pengembangan

Agribisnis Kelinci. Makalah belum di

Publikasi.

ISKANDAR, T. 1982. Invasi ulang skabies (Sarcoptes

scabiei) pada kerbau lumpur (Bos bubalus)

dengan pengobatan aslep asuntol 50 WP

konsentrasi 2% dan perubahan patologik kulit.

Penyakit Hewan. 23: 21−23.

ISKANDAR, T. 2001. Studi Patogenesitas dan Waktu

sporulasi Eimeria stiedae galur lapang pada

kelinci. Widyariset, LIPI 3: 137−184.

ISKANDAR, T., J. MANURUNG dan S.J. SIMANJUNTAK.

1989. Penyakit pada Kelinci. Latihan

Keterampilan Budidaya Kelinci. Badan

Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian

Cihea-Cianjur.

ISKANDAR, T., NG. GINTING dan TARMUDJI. 1984.

Pemeriksaan penyakit pada domba dan

kambing tinjauan patologik di Jawa Barat.

Pros. Pertemuan Ilmiah Penelitian Ruminansia

Kecil. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm.

262−266.

ISKANDAR, T. 2000. Masalah skabies pada hewan

dan manusia serta penanggulangannya.

Wartazoa. hlm. 28−34.

MANURUNG, J., S. PARTOUTOMO dan KNOX. 1986.

Pengobatan kudis kelinci lokal (Notoedres

cati) dengan ivermectin atau neguvon.

Penyakit Hewan. 17(29):308−311.

RAHARJO, Y.C. 2005. Prospek, Peluang dan

Tantangan Agribisnis Ternak Kelinci.

Makalah belum di Publikasi.

RONCALLI, R.A. 1987. The history of scabies in

veterinary and human medicine from biblical

to modern times. Vet. Parasitol. 25: 193−198.

SARDJONO, T.W. 1997. Faktor-faktor terhadap

keberhasilan Penanggulangan Skabies di

Pondok Pesantren. Maj. Parasitol. Ind. 11:

33−42.

SMITH, J.B. dan MANGKOEWIDJOJO. 1988.

Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan

Hewan Percobaan di Daerah Tropis. UI-Press.

SOEDARTO, M. 1994. Skabies. Dexa Media. 7: 4−6.

SUNGKAR, S. 1991. Cara pemeriksaan kerokan kulit

untuk menegakkan diagnosis skabies. Maj.

Parasitol. Ind. 61−64.

WIDODO, T.H. 2005. Usaha Budidaya Ternak

Kelinci dan Potensinya. Makalah belum di

Publikasi.

 

Leave a comment »

Our Holland Lop Buck ” Tong Bajil

introducing, our New Holland Lop Buck

Tong Bajil our from THR Saynora Lance and Viena

Leave a comment »

anatomi kelinci

Leave a comment »

our Holland lop ” Shizuka “

 

 

 

 

 

Hi Rabbit Lover,

kita kembali setelah sekian lama,

smoga rabbit lover masih tetap eksis didunia perkelincian, baik sebagai hobbies, breeder, or seller :)

kita mau mengenalkan salah satu Indukan betina HL import kita

namanya Shizuka..  :) hehe..

 

Leave a comment »

jual anakan rex satin

assalamualaikum wrwb

abang rabbit mau melepas kelinci rex satinnya ni

ada 3 ekor,

2 betina : warna putih dan broken black

1 jantan : warna putih

usia 2 bulan

berikut pic nya

minat bisa ke 0856 93 265626

harga untuk warna putih @ 250rb

untuk broken black @ 400rb

salam

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.